Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kami, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu
(Ibrani 13:7)
***

Pendahuluan
Hari Rabu, tanggal 28 Juni 1961, jam dua belas siang. Sesudah perjalanan lima hari lebih dengan kapal Ichthus, akhirnya Boma sudah kelihatan. Pendeta Kees Versluis sudah beberapa kali pernah ke sini, istrinya Francelot belum. Di sini mereka akan tinggal untuk sementara waktu. Sudah lama mereka tunggu-tunggu tempat ini. Mereka sangat rindu bisa mulai kerja pekabaran Injil. Memang rencana mereka tidak akan menetap di sini, karena mereka diberi tugas untuk nanti cari tempat yang cocok untuk buka pos zending di daerah Kombai, di bagian atas kali Manggono.

1.
Permulaan
Di rumah dan sekitarnya
Untuk sementara waktu mereka masih banyak urusan. Rumah gaba-gaba yang dibangun oleh tuan pendeta Kees (seperti dia disebut di sini) waktu kunjungannya beberapa bulan lalu, sekarang penuh dengan peti dan kotak yang ditaruh sembarang tempat. Perabot rumah hanya tempat tidur dengan kelambu yang sudah dipasang cepat-cepat. Ada pekerjaan yang harus dilakukan! Mereka perlu buat lemari dan rak di rumah, dan untuk itu kayu dari peti-peti bisa dipakai. Di gudang juga harus dibuat banyak rak, karena di sana akan disimpan semua bahan makanan, obat-obatan, alat kerja, dan barang-barang untuk toko rakyat.
Rumah itu sendiri juga belum selesai. Belum ada pintu yang baik, atap untuk kumpul air hujan dalam tempat air minum harus dipasang, juga tempat cuci dan tempat jemur perlu diatur.

Dekat kali ada satu pohon besar; sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh pendeta Versluis, pohon itu yang tidak ditebang waktu masyarakat buka tempat ini. Seorang mudah cepat naik ke atas pohon itu dan ikat tali antena radio setinggi mungkin. Alat pemancar belum ada, tapi dengan demikian mereka sudah bisa dengar berita dari Tanah Merah. Sementara itu, orang kampung buat jalan pasir dari kali Mappi ke rumah pendeta, supaya mereka tidak harus jalan di lumpur terus.
Kebun sayur juga perlu perhatian. Waktu Versluis datang bulan Mei, dia sudah tanam banyak, tapi hampir tidak ada yang tumbuh. Sekarang mereka bawa benih baru, mudah-mudahan bisa tumbuh baik. Sayur segar sangat penting.
Begitulah minggu-minggu pertama lewat cepat, dan perlahan-lahan mereka mulai betah di tempat baru.

Harapan ke depan
Pemerintah dan zending memandang Boma sebagai pintu untuk masuk ke daerah suku Kombai. Di Boma nanti pendeta Drost akan datang kerja, juga guru Meijer, tetapi rencana pendeta Versluis akan masuk ke daerah Kombai untuk buka pos zending baru di sana. Tapi dari awal Versluis ragu-ragu apakah rencana itu akan jadi. Sudah menjadi jelas bahwa tahun itu Drost belum bisa pindah ke Boma. Belum pasti juga apakah Meijer bisa datang menetap di sini, karena mungkin dia akan ke Kouh untuk atur Sekolah Guru Desa (ODO) di sana. Kalau dua orang itu tidak jadi datang tinggal di Boma, susah untuk Versluis mengintai daerah Kombai, karena dia tidak bisa tinggalkan istrinya dengan anak kecil sendirian di Boma. Kepala Bestir (HPB) di Tanah Merah sudah janji akan buka pos polisi di Boma, tapi kelihatannya tidak cepat akan dilaksanakan.



Lapangan Terbang
Boma letaknya di ujung wilayah yang di bawah pengaruh Bestir Belanda. Jalan masuk cuma lewat kali Mappi yang dalam tapi sempit. Dulu sudah dicoba pesawat air mau mendarat, tapi tidak bisa, karena di tepi kali masih hutan besar dengan pohon-pohon tinggi. Berarti, kalau ada keadaan darurat, mereka hanya bisa pakai kapal Ichthus untuk keluar dari Boma. Dengan kapal itu mereka bisa ke danau Mappi, perjalanan dua jam, dan kalau air cukup tinggi di sana pesawat air bisa turun. Jalan lain cuma lewat Kepi, tapi itu perjalanan tiga hari.
Tidak ada kapal yang datang teratur ke daerah atas kali Mappi. Kadang-kadang kapal pemerintah singgah, tapi jarang sekali.
Oleh sebab itu, sangat penting secepat mjungkin buat lapangan terbang di Boma. Waktu kunjungan beberapa bulan lalu, Versluis sudah temukan tempat yang cocok. Tanpa menunggu, dia menyuruh orang-orang kampung bekerja menebang pohon di lokasi itu, supaya bisa mulai membuat landasan pesawat. Pekerjaan itu memang besar sekali! Semua pohon harus ditebang dan dibakar; bulan September, tahap itu hampir selesai. Lalu akar-akar dan tanah hitam harus dibersihkan. Di beberapa tempat, tanah perlu digali atau ditimbun, dan sepanjang lapangan harus dibuat parit.
Orang yang kerja tidak banyak. Kadang-kadang ada orang Kombai datang bantu beberapa minggu, tapi kalau sudah memperoleh cukup uang untuk beli kapak atau parang, mereka kembali ke hutan lagi.

2.
Pekabaran Injil
Hal yang sangat indah…
Yang lebih penting daripada semua pekerjaan pembangunan tentu saja adalah bahwa pemberitaan Injil sekarang dimulai secara struktural.
“Itu hal yang sangat indah, bahwa sekarang sudah terus-menerus ada cerita dari Kitab Suci. Setiap hari Minggu pagi di Boma kami cerita dari Alkitab dalam bahasa Melayu yang sangat sederhana, lalu ada satu juru bahasa, bekas tahanan dari Tanah Merah, yang terjemahkan untuk orang-orang di sini.”
Juru bahasa itu mungkin salah satu dari enam orang yang dulu dihukum karena pemburuan kepala melawan Werarop bulan Juni 1958, dan yang dibebaskan bulan Oktober 1960. Di Tanah Merah mereka sudah belajar sedikit bahasa Melayu, dan juga belajar kerja.

Waktu kunjungan bulan Mei yang lalu, pendeta Versluis sudah mulai cerita tentang penciptaan dunia dan tentang manusia yang jatuh ke dalam dosa. Sekarang dia terus cerita tentang menara Babel, panggilan Abraham, pertengkaran antara Esau dan Yakub, kisah Yusuf, dan seterusnya — seluruh sejarah bangsa Israel secara garis besar.
“Kami coba supaya di tiap-tiap cerita orang bisa dengar tentang Tuhan, betapa besar Dia. betapa baik Dia kepada umat-Nya, dan betapa marah Dia kepada orang yang tidak taat. Kadang-kadang kami juga tunjukkan bahwa Yesus Kristus telah datang untuk selamatkan manusia.”

Di Boma biasanya ada kira-kira 40 orang pendengar, kadang bisa sampai 100. Hampir semua orang yang ada di kampung datang, hanya beberapa ibu tua yang tidak. Pada awalnya belum ada gedung gereja, jadi kumpulan hari Minggu diadakan di tempat yang berbeda-beda, kadang juga di luar rumah. Tapi tidak lama kemudian, rumah zending yang lama diubah menjadi gereja.
Dalam hampir tiap laporan ke gereja di Belanda, Versluis tulis tentang pekabaran Injil ini — nyata sekali bahwa ini pekerjaan yang dia sangat cintai. Cerita-cerita yang dia bawa itu memang sangat sederhana, tetapi bagi orang-orang di Boma itu sudah cukup sulit, karena mereka dengar banyak hal baru.
“Misalnya, apa itu: ‘raja’? Kebudayaan orang Papua tidak kenal raja. Orang tua memang dihormati, tapi pada akhirnya setiap orang lakukan apa yang dia pikir baik sendiri. Dan orang yang berani di sini biasanya yang paling berkuasa.”
Apakah orang mengerti cerita-ceritanya?
“Kami tidak tahu bagaimana kesan cerita ini di hati mereka. Pembunuhan, perang, kelaparan, penderitaan — semua itu mereka sudah tahu dari pengalaman. Jadi waktu mereka dengar cerita, banyak hal terasa biasa saja. Tapi melalui semua itu, tetap kelihatan keadilan, kasih, kesetiaan, dan kebaikan Tuhan.”
Sesudah kebaktian di Boma, dia naik kapal kira-kira setengah jam ke Womu, untuk cerita yang sama di sana.



Para Penginjil
Awal Maret 1961, pendeta Drost bertemu dengan pendeta Rumainum dan pendeta Rigters dari Gereja Kristen Injili di Hollandia. Dua pendeta itu tawarkan kemungkinan untuk dapat beberapa penginjil muda, umur sekitar 18–21 tahun, yang sudah ikut pendidikan penginjil di Ransiki; di sana mereka sudah belajar tentang Alkitab dan ajaran iman.
Sesudah Tuan Drost kembali ke Tanah Merah, dia bicara dengan pendeta Versluis, dan mereka sepakat untuk terima tawaran itu. Mereka tidak sempat tanya pendapat teman-teman kerja yang lain, tapi supaya tidak kehilangan kesempatan, mereka langsung tulis surat ke Hollandia. Bulan Agustus 1961 datanglah tiga orang penginjil ke Tanah Merah: Rumi, Wally, dan Sarwa. Dua pertama datang bersama dengan istri, Sarwa masih bujang. Tidak lama kemudian datang lagi satu orang, Kaigere. Rumi ditempatkan di bawah bimbingan pendeta Van Benthem dan mulai bekerja di Murup. Wally dan Sarwa dihantar oleh guru Meijer ke Boma.
Awalnya pendeta Versluis kasih mereka kerja-kerja kecil; mereka bikin bangku dan meja baca untuk gereja di Womu, dan buat jalan dari kampung Tagiob ke kali Mappi — kira-kira 45 menit jalan kaki. Tetapi tidak lama baru Sarwa mulai pimpin kebaktian di Womu setiap hari Minggu, pakai panduan cerita yang sudah disiapkan oleh pendeta Versluis dan yang mereka pelajari bersama-sama dengan juru bahasa. Sarwa bangun rumah dan sekolah di kampung itu, Wally buat hal yang sama di Tagiob. Waktu Kaigere datang, dia menetap di Boma tetapi pendeta Versluis sendiri tetap pimpin kumpulan-umpulan hari Minggu karena dia merasa itu tugasnya. Kaigere bersama anak-anak buka kebun baru di pinggir hutan.
Ketiga penginjil itu pandai cerita dari Alkitab, walaupun menurut Versluis mereka masih kurang berapi-api. Setiap akhir bulan, mereka datang ke Boma untuk diskusi kerja. Setelah itu, mereka kembali ke kampung masing-masing dengan membawa bekal makan untuk minggu-minggu berikut.



Sekolah Kampung
Tiga penginjil itu juga mulai mengajar anak-anak kampung. Ibu pendeta Francelot Versluis yang pimpin mereka. Ayahnya dulu kepala sekolah, dan dia sendiri sudah menjadi guru sekolah dasar di salah satu kampung di Belanda selama lima tahun sebelum menikah. Dia buat jadwal supaya anak-anak bisa belajar nyanyian mazmur. Beberapa bulan kemudian, waktu beberapa anak naik kapal Ichthus, mereka duduk di bagian depan kapal itu sambil nyanyi mazmur dengan suara keras.
Waktu sudah menjadi pasti bahwa guru Meijer tidak akan pindah ke Boma, pada bulan Februari 1962 ibu Francelot dapat surat dari lembaga di Belanda yang urus pendidikan di daerah zending; mereka tanya apakah dia bersedia tangani pengajaran di Boma. Dalam jawabannya, dia jelaskan bahwa di samping sekolah di Boma, ada juga sekolah di Womu dan di Tagiob. Apalagi, guru Sarwa, Wally, dan Kaigere sudah kerja enam bulan di sekolah, dan menurut ibu Versluis mereka sangat cocok untuk ajar anak-anak di kampung. Sebenarnya dia juga enggan tambah pekerjaan itu karena dia sudah sibuk sekali: dia mengurus toko, mengatur keperluan-keperluan para penginjil, dan juga mengobati orang sakit dan yang berluka di sepanjang kali Mappi.
Dia tidak terima balasan atas suratnya. Tetapi guru Meijer sangat setuju dengan pendapatnya dan menulis bahwa menurut dia, para penginjil paling cocok untuk mengajar di sekolah kampung.





3.
Membangun Pos Zending
Tempat bangun rumah
Juragan lama di kapal Ichthus, Jakob Deda, sesudah masa cutinya tidak kembali lagi, walaupun sudah beberapa kali dipanggil. Mungkin karena istrinya tidak mau lagi tinggal di pedalaman.
Di Tanah Merah, pendeta Drost bertemu dengan Wilhelmus Mikan, seorang laki-laki Marind yang sedang cari kerja. Drost langsung terima dia untuk jadi juragan di kapal zending. Bersama dengan istri dan anaknya, pak Wilhelmus ikut pendeta Versluis ke Boma. Dia bawa dua anak muda dari Muyu: Benedictus (Ben) Amutai dan Marius Alet. Selain itu, ada juga satu anak muda dari Biantap yang kerja dengan keluarga Versluis.

Semua orang itu perlu tempat tinggal. Untuk Wilhelmus didirikan rumah sendiri; sementara waktu dia dan keluarganya tinggal di rumah zending yang lama. Tiga anak muda itu tinggal di rumah yang dulu dibangun oleh guru Meijer untuk dirinya sendiri, tapi yang sekarang dipakai sebagai pasanggrahan karena kemungkinan besar Meijer tidak akan jadi pindah ke Boma. Rumah itu dipakai juga untuk orang yang datang dan pergi dari Kouh. Waktu Drost datang bulan Juli untuk bangun rumahnya sendiri, dia bawa tukang kayu bernama Wattimena. Tukang itu tetap tinggal di Boma dan dapat satu kamar di pasanggrahan itu.
Versluis juga bangun pasanggrahan untuk pegawai pemerintah dan polisi.


Ternyata jalan pasir ke rumah Versluis tidak tahan terhadap hujan besar. Karena itu dia atur orang bangun jembatan di atas kali Boma. Tapi waktu banjir datang, ternyata jembatan itu tenggelam dalam air, jadi harus ditambah tinggi lagi setengah meter.
Tidak heran kalau dalam laporan bulan November Versluis tulis bahwa dia sangat sibuk dan hampir tidak punya waktu menulis laporan. Waktu dia masih muda, dia sudah belajar bangun rumah bersama ayahnya. Dia punya kemampuan teknik dan semangat kerja yang besar.

Hubungan dengan dunia luar
Selama tiga belas bulan tinggal di Boma, mereka beberapa kali terima tamu. Pertama-tama pendeta Drost, yang datang bulan Juli dan Desember 1961, Februari dan Mei 1962. Akhir bulan Agustus guru Meijer dan ibu guru Ellie Nieboer datang untuk hitung jumlah murid di ketiga kampung di kali Mappi, dan kemudian ada kunjungan dari bapak De Boer untuk periksa lapangan terbang. Dokter pemerintah, bpk Janmaat, datang bulan Maret 1962 untuk vaksinasi, dan tidak lama sesudah itu datanglah orang teknisi bpk Bert de Jager untuk perbaiki mesin kapal Ichthus. Akhirnya, bulan Juli 1962, pendeta Van Benthem juga sempat datang berkunjung.

Jadi, tidak bisa dibilang mereka tidak pernah dapat tamu, tapi dalam rangka waktu satu tahun jumlahnya tidak banyak, dan di antara kunjungan itu mereka sering berbulan-bulan sendiri. Untung mereka punya radio, walaupun lima bulan pertama hanya bisa dengar saja. Itu bikin mereka makin sadar betapa terpencil tempat mereka. Informasi yang bisa didengar juga sangat terbatas.

Satu hari Selasa awal September, sekitar jam empat sore, beberapa orang kulit putih keluar dari hutan masuk kampung. Mereka adalah Jan dan Sjaan Boer. Pendeta Drost sudah kenal mereka waktu mereka masih tinggal di Hollandia; sekarang mereka sudah pindah ke Merauke. Jan biasa bantu orang zending dengan kirim barang mereka ke pedalaman. Drost sudah minta dia kunjungi Boma untuk periksa lokasi lapangan terbang dan kasih pendapatnya, karena dia sudah berpengalaman dalam hal itu di banyak tempat di pedalaman Papua.
Mereka disambut dengan gembira. Ibu Francelot sangat senang karena Sjaan ikut datang; sudah berbulan-bulan dia tidak bertemu perempuan Belanda lain, hanya sempat bertemu ibu guru Ellie Nieboer seminggu sebelumnya.
Sore itu juga, Jan dan Kees pergi lihat lokasi lapangan terbang. Dia periksa tanah (sebagian besar pasir) dan lihat arah masuk dan keluar pesawat (tidak jelek), lalu kasih saran supaya bagian tengah lapangan diperkuat dan ditanami rumput. Secara umum dia cukup puas; jadi Versluis bisa lanjut kerja pembangunan lapangan terbang itu.

Malam itu dan besoknya mereka banyak sekali bercerita. Jan dan Sjaan cerita tentang perjalanan mereka lewat hutan. Ada empat orang Papua dari Kouh yang menghantar mereka ke sini. Di satu tempat, orang Kouh yang jalan di depan tiba-tiba berhenti dan tunjuk tanah di depan kakinya. Sjaan mau lewat, tapi dia ditahan. Jan datang dan lihat seekor ular sepanjang satu meter di jalan — warnanya sama seperti daun kering di tanah, coklat dan hitam. Orang Kouh itu ambil satu ranting bercabang, jepit kepala ular, dan bawa ular itu ke bivak di mana mereka bermalam. Malam itu mereka bakar di api dan makan bersama.
Kees dan Francelot bercerita tentang hidup mereka di Boma. Tentang sulitnya untuk menyalin hubungan yang baik dengan penduduk kampung, yang sering pergi ke hutan selama berhari-hari. Itu merupakan masalah besar kalau mau atur sekolah untuk anak-anak. Yang hadir ibadah hari Minggu juga sering ada sedikit saja yang hadir karena banyak orang masuk hutan.
Mereka juga cerita bahwa mereka merasa sangat sepi dan sedih karena belum punya radio SSB.
Mereka bicara mengenai kebudayaan orang Mappi — tentang kebiasaan lama seperti kanibalisme, berburu kepala manusia, dan upacara-upacara mau-mau untuk mencegah roh-roh jahat.
Kees cerita betapa susahnya membawa berita Alkitab kepada orang yang hanya tahu dunia hutan, padahal cerita-cerita Alkitab terjadi di daerah gurun seperti di Palestina dan Mesir. Dunia orang Papua sangat berbeda, jadi sulit bagi mereka untuk membayangkan.
Beberapa hari kemudian, Jan dan Sjaan berangkat lagi; mereka bawa pengalaman besar. Bagi keluarga Versluis, kunjungan itu jadi waktu istirahat yang sangat menyenangkan di tengah hidup yang sepi di Boma.

Jalan-jalan ke luar
Awal November, ada kapal pemerintah datang bawa kelapa untuk Boma, Womu, dan Tagiob. Dengan kapal itu juga datanglah generator dan alat radio-SSB. Untuk generator itu, pendeta Versluis harus bangun rumah kecil dan pasang kabel dulu, tetapi setelah itu dibuat, mereka akhirnya punya lampu listrik dan bisa pakai radio. Jadi, akhir bulan itu, mereka pertama kali bisa kontak dengan Kouh lewat radio. Dari sana mereka dengar bahwa di keuarga pendeta Drost baru-baru lahir bayi perempuan, dan bahwa pendeta Van Benthem harus pergi ke Belanda karena anaknya sakit. Kawagit belum bisa siaran, dan penerimaan pada umumnya masih kurang bagus. Tapi tuan pendeta Kees tidak terlalu paham soal radio, dan mereka sudah senang sekali bisa berhubungan dengan pos zending lain.
Waktu kapal pemerintah berangkat lagi, mereka ikut menumpang. Kapal Ichthus diikat di samping kapal besar itu dan mereka ikut sampai di muara kali Obaa, lalu terus ke Kepi dengan kapal Ichthus. Perjalanan itu makan waktu tiga hari. Kapal Ichthus sebenarnya terlalu sesakuntuk perjalanan jauh, jadi mereka senang bisa ikut kapal besar sebagian jalan.

Di Kepi mereka disambut baik oleh bapak Felubun dan istrinya, yang sudah kenal mereka sejak di Tanah Merah. Mereka orang dari Gereja Maluku dan minta supaya kalau Versluis datang lagi, dia bisa pimpin kebaktian di sana. Mereka beli barang keperluan, dan waktu pulang ke Boma, kapal Ichthus itu lebih berat daripada waktu pergi. Mereka juga butuh tiga hari kembali, dan malam hari mereka tetap jalan dengan pakai terang lampu petromax.
Bulan April 1962 mereka pergi sekali lagi ke Kepi. Waktu itu Bert de Jager baru selesai perbaiki motor kapal Ichthus. Sesudah lima bulan di Boma tanpa keluar, Versluis dengan istrinya memang sudah perlu istirahat. Waktu mereka dua hari di Kepi, mereka punya anak Govert jatuh sakit, jadi mereka harus tinggal seminggu lagi sebelum bisa pulang ke Boma. Dengan demikian mereka dua kali berhari Minggu di sana, dan pendeta Kees diminta untuk berkhotbah bagi kelompok kecil orang Protestan di situ.
Sesudah kembali ke Boma dan beristirahat dari perjalanan yang melelahkan, mereka merasa bersyukur — perjalanan itu jadi waktu istirahat yang sangat mereka butuhkan.

Mengintai daerah Kombai
Semakin lama mereka tinggal di Boma, semakin pendeta Versluis merasa kecewa, karena dia belum punya kesempatan untuk pergi mengintai daerah di hulu kali Mappi dan kali Manggono. Padahal rencananya, dia harus membuka pos zending di daerah itu, dan tinggal di Boma hanya sementara saja. Setelah lebih dari setengah tahun, akhirnya awal 1962 dia mendapat kesempatan untuk pergi melakukan beberapa perjalanan singkat ke daerah yang belum dikenal itu.
Perjalanan pertama dia naik kapal Ichthus untuk mau cari orang dari marga Jamah. Orang-orang itu tinggal di darat di sebelah selatan kali Mappi, dekat muara kali Manggono, dan sering datang kerja di Boma. Versluis mau ajak mereka pindah ke Boma, atau, jikalau mereka banyak orang, mungkin buka kampung baru di sana.
Dia pergi bersama dengan guru Kaigere. Setelah mereka berlabu di sana, mereka masuk hutan. Setelah dua jam, mereka temukan suatu tempat dengan beberapa pondok kosong. Di depan pondok itu ada beberapa tongkat dicapkan di tanah dengan tengkorak — kepala seorang perempuan dan seorang anak kecil yang katanya sudah mereka bunuh dan makan. Mereka tidak bertemu orang, hanya dengar anjing menyalak di hutan. Ketika mereka pulang ke tempat kapal Ichthus berlabu, ternyata jalan itu baru-baru ditutup dengan rotan segar — tanda supaya jangan lewat. Mereka cari jalan putar dan datang lewat pondok lain; di sana ada busur, panah, dan tombak, tetapi tidak ada orang. Versluis tinggalkan sedikit tembakau sebagai tanda damai. Baru waktu hampir sampai di kali Mappi, ada suara orang teriak dari jauh: “Siapa taruh tembakau itu? Mari kita bicara!” Tapi hari sudah sore, tidak ada waktu lagi. Kees sudah mengerti bahwa orang-orang di sini takut kalau nanti dia cerita ke Bestir di Tanah Merah tentang apa yang dia lihat.


Perjalanan kedua, Francelot dan Govert ikut juga. Mereka mau coba naik kali Manggono dengan Ichthus sejauh mungkin. Tapi setelah satu setengah jam, kapal sudah kandas di pasir. Mereka kecewa, karena kalau di sini sudah air dangkal, bagaimana di bagian atas?
Di perjalanan ini mereka singgah di dua rumah tinggi di pinggir kali Manggono. Orang di tempat itu ternyata sebenarnya termasuk masyarakat Boma. Rumah-rumah itu sekitar delapan meter tinggi. Orang yang di dalamnya sibuk bicara-bicara dan hampir tidak peduli dengan tamu.
Waktu kembali ke Boma, hati Kees dan Francelot agak sedih. Rumah-rumah tinggi itu letaknya jauh satu sama lain. Selama orang masih hidup begitu, sulit sekali ajar mereka tentang Injil.

Gerhana matahari dan wabah flu
Tanggal 5 Februari 1962 terjadi gerhana matahari total. Semua orang di pedalaman takut sekali. Di Kawagit, orang keluar dari rumah-rumah dengan berteriak dan menari di jalan. Di Kouh, ibu Ellie Nieboer sudah jelaskan sebelumnya kepada anak-anak bahwa matahari akan tertutup. Tapi waktu benar-benar menjadi gelap, semua orang panik. Beberapa anak pakai kaca yang sudah dihitamkan oleh ibu guru supaya mereka bisa lihat matahari. Tapi waktu orang tua mereka teriak dari rumah: “Jangan nonton!”, mereka taruh kaca-kaca itu dan lari ke kampung. Ibu-ibu di kampung menangis, laki-laki berlari bolak-balik di jalan dengan busur dan tombak, dan beberapa orang lari ke kali Digul. Mereka pikir bumi akan pecah kalau matahari tidak kembali. Sesudah beberapa menit matahari muncul lagi, baru semua orang lega.


Tidak lama sesudah itu datang penyakit flu berat di seluruh daerah. Orang pikir penyakit itu datang karena gerhana. Banyak yang lari ke hutan. Di Boma suasana jadi aneh. Orang tidak mau kerja untuk tuan pendeta Kees. Mereka tidak mau bicara. Wattimena akhirnya tahu penyebabnya: di hulu kali Mappi, waktu hujan besar, satu rumah panggung jatuh karena tanah longsor. Dari lubang keluar air, dan orang-orang di situ jadi sakit. Mereka pikir supaya penyakit berhenti, semua orang harus mau-mau (buat upacara tolak bala) dan jangan pakai obat atau barang dari tuan pendeta.
“Kenapa tidak mau kasih tahu kepada pendeta?”
“Karena tuan Kees bilang Tuhan Allah yang bikin dunia. Dia tidak akan percaya kalau kita bilang mau-mau bisa tolong.”

Sesudah lima bulan tinggal di Boma, lahir bayi di kampung. Ibu Francelot diminta bantu cuci bayi — hal yang jarang terjadi. Bulan November istri Wilhelmus, Devota, juga melahirkan. Francelot bantu dia, walau tidak punya pelatihan.
Kalau ada orang sakit, orang kampung selalu buat upacara mau-mau: dcengan cara-cara rahasia mereka cabut panah dari tubuh orang sakit, atau kunyah jahe lalu semprot ke tubuh pasien sambil teriak keras. Suatu kali Francelot datang bawa obat untuk bayi, tapi mereka sedang buat mau-mau. Dia minta izin menonton, dan mereka tidak berkebaratan; mereka bilang: sesudah mereka buat mau-mau itu, ibu Francelot boleh kasih obat.

Kesepian dan masa depan
Boma saat itu tempat yang sangat terpencil. Tapi Versluis dan istrinya sadar bahwa nanti, kalau keluarga Drost jadi datang tinggal di sini, dan mereka akan pindah ke bagian atas kali Manggono untuk buka pos baru, tempat itu akan jauh lebih sepi lagi, karena tidak ada jalan, dan mungkin saja di situ tidak bisa dibuat lapangan terbang. Versluis tulis:
“Masa depan masih gelap. Tapi kami senang dengan pekerjaan di Boma.”
Bestir di Tanah Merah tidak punya tenaga cukup untuk datang bantu di daerah ini. Polisi juga harus tinggal di Tanah Merah karena keadaan politik sedang tegang.
“Jadi kami harus kerjakan keamanan sendiri. Kami berharap kehadiran kami di Boma bisa bikin daerah ini lebih damai. Tapi kami belum pernah ketemu orang di daerah di sebelah utara danau Mappi. Tidak ada yang tahu keadaan di sana.”
Masalah besar lainnya adalah orang sering masuk hutan berminggu-minggu. Kadang-kadang kampung kosong, gereja sepi, kerja bangun juga berhenti. Tapi tuan pendeta Kees tidak merasa terlalu berat karena kesepian. Dia tulis:
“Kami jarang sekali merasa kesepian. Yang penting bagi kami ialah bahwa kami punya pekerjaan dari Tuhan. Itu memberi sukacita.”

Hal yang lebih berat baginya adalah bahwa dia tidak turu diskusi dengan rekan-rekannya di pos lain dalam pengambilan keputusan-keputusan. Misalnya tentang sekolah guru desa (ODO) — dia tidak tahu bagaimana keadaannya. Atau tentang pastor Van der Velden yang keluar dari Gereja Katolik — dia juga tidak dengar kabar lagi. Dia rindu bisa berbicara langsung dengan teman-temannya. Waktu dengar bahwa pendeta Van Benthem harus pulang ke Belanda, dia tulis ke gerejanya di tanah air: “Kami di sini di Papua Barat rasa kehilangan dia punya pendapat dan cara memandang perkara-perkara dengan lugas.”
Rekan-rekan misionaris tahu betapa sulit posisi teman mereka di Boma. Waktu pendeta Van Benthem kembali dari cuti bulan Juli 1962, minggu berikut dia langsung jalan kaki dari Kouh ke Boma untuk kunjungi teman sekerja di sana.


Tanpa harapan?
Yang paling berat bagi mereka bukanlah kesepian, tapi rasa tidak ada kemajuan. Pendeta Kees sangat ingin mulai kerja di daerah Kombai. Rencana kepindahan Drost dan Meijer terus berubah. Ketika akhirnya ada kepastian bahwa Drost akan pindah ke Boma, hal itu merupakan kabar baik bagi Versluis. Dia langsung pikirkan usulan-usulan yang praktis. Dia sadar bahwa nanti dia akan butuh satu kapal sendiri untuk bawa barang naik kali Manggono. Dia ingin dapat sekuci kecil dengan mesin jet (tanpa baling-baling) supaya bisa jalan di air dangkal. Dia juga akan perlu satu generator yang bisa dikayuh dengan kaki, supaya bisa jalankan radio di tempat di mana belum ada listrik.
Waktu dia buat usulan-usulan itu (bulan Maret 1962), hubungan antara Belanda dan Indonesia sudah sangat tegang. Tapi dia pikir, Kalau nanti keadaan berubah, mungkin tidak bisa lagi kirim barang dari Belanda ke Papua. Jadi lebih baik siapkan semuanya sekarang. Walau banyak hal mengecewakan, dia masih punya semangat dan harapan. Harapan ini menguat ketika pada bulan Mei Drost memberitahu kepadanya bahwa kepindahannya ke Boma kini kurang lebih sudah pasti.


4.
Drost
Suku Kombai
Bukan hanya Versluis yang merasa kecewa dan frustrasi; Drost juga begitu. Sudah pada bulan April 1960, sebelum dia pergi cuti ke Belanda, dia menulis tentang rencananya untuk bangun pos zending baru di daerah kali Manggono:
“Sesudah kembali dari cuti, saya tidak terlalu ingin kembali duduk saja di Tanah Merah. Sekarang kami harus buka pos kami sendiri. Sebenarnya lebih indah kalau itu sudah bisa jadi sekarang. Tapi semua tidak bisa sekaligus. Kami harus bersyukur karena sekarang sudah ada dua pos zending di mana Injil Yesus Kristus diberitakan [yaitu Kouh dan Kawagit]. Waktu kami berangkat dari Belanda pada tahun 1956, saya tidak berani bermimpi bahwa pada waktu cuti pertama sudah sejauh ini. Itu masih keajaiban bagi kami — keajaiban dari kasih karunia Allah di dalam Kristus Yesus.”


Sesudah cuti, bulan Juli 1961, dengan penuh semangat dia mulai pasang rumah prefab-nya di Boma, bersama Versluis:
“Acuan kayu untuk fondasi sudah siap. Kalau air kali Mappi sudah surut, kami akan pergi ambil pasir dan batu kerikil, dan mulai cor. Sementara itu saya dan pendeta Versluis mulai rakit bagian-bagian rumah. Pekerjaan ini menyenangkan, tapi kadang harus hati-hati supaya semua pas.”

Semangat itu muncul karena dia sangat berharap akhirnya akan punya pos zending sendiri. Dari Tanah Merah dia sudah urus banyak hal untuk teman-temannya. Hampir tiga tahun yang lalu dia mulai dengan pemberitaan Injil di Kouh, tetapi kemudian Kouh menjadi tempat kerja pendeta Van Benthem, dan Kawagit menjadi tempat pendeta Klamer. Sejak dia bersama dengan patroli besar bestir di Tanah Merah melintasi daerah Kombai, bulan Januari 1958, Drost punya kerinduan untuk bawa Injil ke suku itu. Dari kali Digul tidak jadi, karena kali Kasuari dan kali Kouh ternyata terlalu kecil untuk dipakai untuk masuk ke daerah itu. Sekarang dari Boma tampaknya bisa. Karena itu dia tidak sabar ingin pindah ke sana.
Memang nanti bukan dia tapi Versluis yang akan masuk ke daerah Kombai; namun kalau dia dapat tanggung jawab untuk Boma, Womu, dan Tagiob, berarti dia juga punya pos zending sendiri.

Banyak halangan
Tapi kehendak Tuhan itu lain. Drost kena penyakit otot yang mirip rematik. Dia harus diterapi dengan sinar dan suntikan, jadi tidak bisa keluar dari Tanah Merah sampai bulan Desember. Itu membuat dia sangat kecewa, karena dia ingin sekali pergi ke Boma, tapi ternyata belum bisa, karena kapal Ichthus ada di Boma:
“Saya sangat sedih karena bulan-bulan terakhir tidak bisa bantu Versluis. Pekerjaan yang dia lakukan di sana sangat berat, dan kami sungguh bersyukur karena dengan dia tinggal di sana, pekerjaan bisa tetap jalan waktu saya tidak bisa kerja.”
Selain itu, ada alasan lain kenapa dia tidak bisa pergi: istrinya sedang hamil besar. Pada tanggal 13 November lahirlah anak ketujuh mereka. Waktu itu Drost sendiri sudah mulai sembuh dan buat rencana baru untuk pindah ke Boma. Dia pikir, sekarang pasti jadi juga!

Tapi bulan Januari, waktu dia mau ke Boma untuk selesaikan rumah dan siap-siap pindah dengan keluarganya, dia harus batalkan rencana itu karena nasihat dari Bestir di Tanah Merah. Saat itu, keadaan politik sangat tegang. Bisa saja jadi kacau, jadi tidak aman untuk tinggalkan istri dan anak-anaknya sendirian.
Sebenarnya waktu bagi Drost hampir habis. Sejak bulan Juni 1961, dia serta istrinya sudah putuskan bahwa ini masa tugas terakhir mereka di Papua. Keluarga mereka sudah terlalu besar, dan pendidikan anak-anak makin sulit diatur. Jadi, kalau dia masih mau punya pos zending sendiri, harus segera sekarang. Dia harap bisa pindah ke Boma sekitar bulan Maret atau April 1962. Bisa saja dengan pesawat, karena perjalanan dengan kapal terlalu berat bagi keluarganya. Dengan semangat dan sifat optimis, dia yakin lapangan terbang di Boma pasti sudah siap.
Tapi di Boma semua berjalan lambat. Orang yang kerja sedikit sekali, dan hampir tidak ada yang kerja di lapangan terbang. Walaupun demikian, mau tidak mau dia harus ke Boma; bulan Maret dia menulis:
“Apakah lapangan terbang jadi atau tidak, saya akan pindah ke Boma kalau rumah kami di sana sudah bisa ditinggali.”
Kepala Bestir di Tanah Merah janji akan kasih izin pakai kapal besar pemerintah pada akhir Mei untuk pindah. Tapi lagi-lagi batal. Karena situasi politik semakin panas, kepala Bestir di Tanah Merah minta supaya kapal itu tetap di Tanah Merah. Sangat mengecewakan untuk pendeta Drost!

5.
Zending dalam masa krisis
Kata-kata yang mengancam
Perkembangan politik di sekitar Nieuw-Guinea tahun 1962 membawa pengaruh besar bagi pekerjaan zending. Sudah dari bulan November 1961, bapak Versluis mulai khawatir:
“Kami harap supaya dengan keadaan politik seperti ini, kami masih bisa tolong orang-orang di sini. Kiranya Tuhan beri kekuatan tubuh dan roh. Tuhan kasihan pada bangsa yang miskin ini.”
Sejak tahun 1954 Indonesia kadang-kadang sudah buat serangan kecil di bagian barat Papua. Tapi waktu pada tanggal 1 Desember 1961 orang Papua berpesta karena dapat bendera baru dengan lagu kebangsaan, presiden Indonesia Sukarno jadi sangat marah. Dalam pidato di Jogjakarta, ia panggil rakyat untuk lawan sisa-sisa kolonialisme Belanda ini dan umumkan Tri Komando Rakyat (Trikora):

Sukarno bilang, paling lambat tanggal 1 Januari 1963 semua itu harus terlaksana. Untuk itu ia bentuk Komando Mandala di bawah pimpinan mayor jenderal Suharto. Aneksasi harus berjalan dengan tiga tahap: infiltrasi (masuk diam-diam dengan tentara), eksploitasi (serangan terbuka), dan konsolidasi (kuatkan kuasa Indonesia di seluruh Papua Barat).

Banyak bicara, sedikit tindakan?
Pendeta Drost tidak terlalu takut. Menurut dia, Sukarno memang bicara keras di radio, tapi belum tentu semua itu sungguh-sungguh. Jadi tidak ada alasan besar untuk kuatir.
Sesudah pidato Sukarno tanggal 19 Desember, bapak Klamer datang ke Tanah Merah. Di situ orang kampung jadi gelisah — mereka pikir mungkin Indonesia akan serang. Untuk jaga lapangan terbang, datang lima belas marinir Belanda, dan mereka tinggal di rumah pasanggrahan yang baru dibangun di kompleks zending, dekat lapangan.
Tapi di luar Tanah Merah, keadaan masih tenang. Akhir bulan itu, bapak guru Rietkerk tulis dari Kawagit:
“Sekarang di Kawagit kami tidak rasa apa-apa. Waktu diumumkan keadaan siaga, kami baru dengar sesudah satu minggu. Orang kampung tidak tahu apa-apa. Mereka juga tidak mengerti apa yang sedang terjadi.”
Di Butiptiri, pendeta Knigge juga tidak terlalu kuatir, walaupun ia tahu situasi politik belum pasti:
“Mungkin Indonesia tidak akan mulai perang besar. Kalau kita takut dan tidak mau buat investasi, misalnya beli kapal, maka pekerjaan zending bisa terhenti. Jadi lebih baik kami terus kerja, dan berdoa supaya Tuhan buka jalan untuk kami memberitakan Nama-Nya.”


Pertempuran laut
Awal Januari 1962, intelijen angkatan laut Belanda dapat informasi bahwa ada empat kapal torpedo berangkat dari pelabuhan Jakarta menuju arah timur. Satu kapal rusak di jalan, tiga lainnya sampai di Kepulauan Aru.
Tanggal 11 Januari, panglima Belanda kirim perintah kepada kapal fregat Hr. Ms. Evertsen: “Jangan biarkan pasukan Indonesia bikin pangkalan di pantai Papua.” Instruksi khusus dikeluarkan: “Jika kapal-kapal torpedo ditemukan
di wilayah tanggung jawab Anda, segera musnahkan.” Garnisun di Kaimana diperkuat dengan unit Marinir, dan jumlah penerbangan pengintaian ditingkatkan.
Malam 15–16 Januari, tiga kapal torpedo itu berangkat menuju pantai selatan Papua. Mereka mau turunkan satu kompi tentara di daerah Kaimana yang harus ajak orang Papua mulai pemberontakan melawan Belanda. Kapal pertama, Harimau, dipimpin oleh Kapten Laut Sudomo dan Kolonel Mursyid. Kapal torpedo kedua itu Macan Tutul dengan Komandan Wiratno dan Komodor Yos Sudarso. Paling belakang kapal Macan Kumbang.
Sudarso bawa tugas khusus: tanam bendera Indonesia di tanah Papua dan ambil sedikit tanah untuk dibawa ke Sukarno. Dia mau menunjukkan hal ini di parlemen sebagai bukti bahwa mereka harus menggunakan tindakan militer, karena perundingan selama sebelas tahun tidak menghasilkan apa-apa.


Fregat Belanda Hr.Ms. Evertsen (Defensie Beeldbank, 2158_107708)
Tidak jauh dari pantai Papua, dua fregat Belanda menunggu kapal-kapal itu. Terjadi pertempuran laut; kapal torpedo Macan Tutul terbakar dan ditenggelamkan, 39 orang mati termasuk komodor Yos Sudarso; 50 orang hanyut ditangkap oleh kapal Belanda. Dua kapal torpedo yang lain itu langsung balik melarikan diri kembali ke kepulauan Aru; mereka tidak bawa torpedo karena ruangnya dipakai untuk tentara infiltrasi, sehingga tidak mampu membela diri. Walaupun dengan demikian misi mereka gagal total, di Indonesia kejadian ini diperingati setiap tanggal 15 Januari sebagai Hari Dharma Samudera, untuk kenang keberanian dan pengorbanan para pelaut.

Ketegangan makin meningkat
Sesudah pertempuran itu, suasana makin panas. Versluis harus membatalkan rencananya untuk melakukan beberapa perjalanan pengintaian di kali Manggono:
“Kami bisa saja dipanggil melalui radio oleh HPB Tanah Merah untuk ‘bertemu’, yang berarti
kami harus berusaha mencapai Tanah Merah atau Kepi secepat mungkin,supaya dari sana kami mungkin akan
dievakuasi.”
Drost juga diberitahu oleh HPB di Tanah Merah bahwa lebih baik tinggal di Tanah Merah untuk sementara waktu, untuk berjaga-jaga kalau Indonesia serang. Lambat laun menjadi jelas bahwa Papua cepat atau lambat akan diserahkan kepada Indonesia. Hal ini sangat mencemaskan para misionaris. Tanggal 6 Maret, Drost tulis:
“Kelihatannya perang besar tidak akan jadi, tapi hati kami sedih melihat ketidakadilan dan kelemahan hukum dalam perkara ini. Kiranya Tuhan kasihan atas negeri ini, dan menanam gereja-Nya di sini.”
Sebulan kemudian ia tulis lagi:
“Meskipun situasi masih sangat tidak pasti hingga keputusan akhir dibuat, saya yakin bahwa serangan besar mungkin tidak akan jadi. Meskipun kemungkinan infiltrasi berskala kecil memang tinggi, hal ini tidak menimbulkan ancaman langsung, karena pasukan militer Belanda yang saat ini berada di sini memberikan perisai yang baik terhadap mereka.”
Rietkerk di Kawagit juga tidak memperkirakan akan terjadi konfrontasi bersenjata,
namun ia tidak terlalu yakin dengan pembelaan Tanah Merah:
Rietkerk di Kawagit juga tidak percaya akan ada perang besar, Rietkerk di Kawagit juga tidak memperkirakan akan terjadi konfrontasi bersenjata, namun ia tidak terlalu yakin dengan pembelaan Tanah Merah:t
“Kalau hanya 20 prajurit Indonesia turun dengan parasut di Tanah Merah, maka kota itu sudah kalah. Penjagaannya terlalu lemah. Tapi saya kira itu tidak akan terjadi.”


Ancaman invasi
Memang tidak terjadi serangan besar, tapi Indonesia kirim banyak pasukan kecil: lebih dari 1.700 orang disusupkan ke Papua, sebagian lewat kapal, sebagian diterjunkan dari pesawat.
Tanggal 24 Juni tiga pesawat Herkules jatuhkan 55 komando dan 160 prajurit di sekitar Merauke, dipimpin oleh kapten Benny Murdani. Tapi karena salah navigasi, para penerjun jatuh di tempat yang salah dan jauh yang satu dari yang lain sehingga mereka tersebar dan tidak bisa bertindak sebagai satu kesatuan. Untuk mengamankan Merauke, pimpinan ketentaraan Belanda segera kirim pasukan marinir dari Manokwari.
Tanggal 23 Juli, orang-orang Papua lapor ada tentara Indonesia dekat landasan di Kelapa Lima. Marinir pergi lihat dan terjadi pertempuran tembak-menembak yang berlangsung selama 15 menit. Sesudah malam, marinir mundur. Besoknya mereka tahu semua para itu sudah mati, tapi juga ada satu marinir Belanda gugur.
Sementara itu Indonesia siapkan Operasi Jayawijaya, rencana besar untuk serang pulau Biak. Di pihak Belanda, mereka tahu ada kira-kira 60 kapal Indonesia siap berangkat, tapi tidak tahu ke mana akan menyerang, mereka menduga sdi suatu tempat di pesisir selatan Papua. Mereka juga merekam percakapan dalam bahasa Rusia; namun, mereka tidak tahu seberapa besar keterlibatan Moskow.
Di pedalaman, orang zending tidak tahu banyak soal itu. Tapi mereka mulai rasa akibatnya: kapal bahan makanan tidak datang lagi. Di Tanah Merah dan di Boma, gudang mulai kosong; terakhir kali mereka menerima pembekalan di Boma adalah pada bulan Pebruari; tidak ada kapal yang masuk lagi sejak saat itu. Pendeta Versluis dan istrinya sering harus minta maaf “tidak ada” kepada orang kampung yang datang minta garam, sabun, atau tembakau. Orang jadi kecewa dan marah, terutama karena tembakau habis.


Evakuasi
Sementara itu di Boma berdiri gereja baru, di samping rumah yang didirikan untuk pendeta Drost, ukuran 15 kali 7,5 meter, dibangun oleh tukang kayu Wattimena. Tiang dari kayu besi, bangku dari batang pohon, mimbar dari gaba-gaba, dan atap dari seng. Tanggal 23 Juli, Versluis pimpin ibadah pertama di situ; ia sudah sampai pada akhir cerita dari Perjanjian Lama.
Tiga hari kemudian, Rabu 26 Juli, mereka dapat panggilan dari Kepi untuk “rapat”. Mereka tahu artinya — evakuasi. Sebelum pergi, Versluis panggil semua orang kampung ke gereja. Mereka sangat sedih. Pendeta juga menangis:
“Memang kadang susah hidup di sini, tapi kami sudah cinta tanah ini dan pekerjaan Tuhan di tengah kalian.”
Hari Sabtu, tepat tiga belas bulan sesudah mereka tiba di Boma, mereka berangkat. Orang kampung berdiri diam di dermaga, lihat kapal Ichthus perlahan-lahan pergi.

Ketika mereka tiba di Kepi, pesawat yang seharusnya mereka tumpangi baru saja lepas landas. Maka mereka memutuskan untuk terus ke Tanah Merah. Di sana mereka bertemu ibu Knigge dan kedua anaknya, suster Annie Havinga, dan ibu guru Nieboer. Para perempuan dan anak-anak lainnya telah berangkat lebih awal. Pada hari Senin, 6 Agustus, mereka naik pesawat ke Merauke; dari sana, mereka melanjutkan perjalanan ke Belanda. Pendeta Versluis dengan hati yang sedih tertinggal di Tanah Merah.
“Menengok kembali pekerjaan yang kami dapat lakukan di Boma selama dua tahun kami datang ke sana dan selama setahun keluarga kami bekerja di sana, kami dapat berkata: pekerjaan persiapan yang memang diperlukan untuk benar-benar mulai bekerja di kampung, telah selesai. Ada rumah-rumah untuk pendeta Drost, untuk kami, dan untuk juragan; ada gudang yang bagus, dan sebuah bangunan gereja yang indah dan fungsional. Kerja di lapangan terbang dalam beberapa bulan terakhir ini sudah maju, dan kami sudah mulai meratakan tanah. Sesudah satu tahun ini, kami sekarang perlahan-lahan mulai mengenal orang-orang , dan mereka mulai mengenal kami. Dan yang sangat mengharukan kami, bahwa saat ini, ketika kerja baru mulai sungguh berjalan, semuanya harus berhenti.”

Kepala kepolisian Tanah Merah, pdt Knigge, pdt Drost.
6.
Di tepi perang
Moskow
Presiden Sukarno tetap pegang dua jalan: diplomasi dan perjuangan bersenjata, supaya Belanda akhirnya menyerah. Tapi untuk bisa perang, ia butuh banyak senjata. Karena itu ia pergi minta tolong ke pemimpin Rusia, presiden Khrushchev. Pada bulan Januari 1961 mereka buat perjanjian rahasia: Rusia akan kirim banyak senjata — pesawat tempur, pesawat pembom, kapal patroli, kapal selam, dan lain-lain.
Tapi waktu itu Indonesia belum mampu pakai semua alat modern itu sendiri. Jadi Rusia juga kirim tentara untuk bantu. Dari dua belas kapal selam yang dikasih, enam diantaranya dikemudikan seluruhnya oleh awak Rusia. Mereka pakai seragam Indonesia tanpa tanda pangkat, dan bawa surat yang bilang bahwa mereka “sukarelawan Indonesia.” Dengan begitu, kalau terjadi sesuatu, Moskow bisa pura-pura tidak tahu apa-apa.
Bagi Rusia, ini juga kesempatan baik untuk uji coba senjata-senjata baru mereka.

Presiden Khrushchev sendiri tidak sembunyikan dukungannya. Sebaliknya, waktu rombongan Indonesia ada di Moskow, ia buat pidato besar dan bilang bahwa sekarang bangsa-bangsa di dunia ketiga sudah punya pemimpin-pemimpin baru yang berani menolak pengaruh Barat dan mau ikut cita-cita komunis dari Uni Soviet. Ia janji, Uni Soviet akan bantu mereka dalam perjuangan melawan imperialisme Barat — secara politik, ekonomi, dan militer.
Malam itu juga, di pesta perpisahan untuk rombongan Indonesia, Khrushchev teriak keras di depan semua tamu: “Sudah habis waktu kekuasaan Belanda di Papua!”

Ketegangan naik
Dengan sikap Rusia seperti itu, Amerika Serikat jadi tertekan. Masalah Papua sekarang sudah jadi bagian dari Perang Dingin. Sukarno makin keras: kalau perundingan gagal, ia akan mulai serangan besar-besaran. Amerika tidak mau ada perang di Pasifik, jadi mereka pilih untuk menyenangkan Sukarno. Artinya: Belanda harus siap melepaskan Papua. Presiden John F. Kennedy kirim adiknya, Robert Kennedy, ke Indonesia dan Belanda pada bulan Februari 1962. Ia datang dengan pesan jelas: masalah ini harus selesai dengan damai, tidak boleh ada perang, tidak boleh pakai kekerasan.
Tapi Sukarno tidak sabar lagi. Ia perintahkan jenderal-jenderalnya supaya urusan Irian Barat selesai sebelum tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan republik Indonesia. Ia ingin pada hari itu bisa umumkan bahwa revolusi sudah lengkap, karena Irian sudah kembali ke pangkuan Indonesia.
Dari pihak Rusia juga datang desakan. Banyak perwira tinggi Rusia datang ke Jakarta, satu demi satu, sampai akhirnya datang juga seorang menteri. Mereka sudah tanam banyak modal dalam pembentukan dan modernisasi tentara Indonesia, dan mereka tidak mau Amerika nanti yang dapat pujian kalau akhirnya terjadi perdamaian lewat perundingan.
Tanggal 13 dan 14 Agustus 1962, Indonesia turunkan pasukan payung di banyak tempat di pantai selatan dan utara Papua. Itu hanya untuk pengalihan — supaya perhatian Belanda tidak fokus ke pulau Biak, tempat serangan utama akan dilakukan beberapa hari kemudian.
Tanggal 14 Agustus, armada besar Indonesia berangkat dari Kepulauan Banggai menuju Biak. Jumlah kapal sekitar enam puluh, terdiri dari kapal perang dan kapal niaga, dengan lebih dari dua belas ribu marinir dan tentara di dalamnya.
Tanggal 15 Agustus, salah satu dari kapal selam yang dijalankan oleh awak Rusia dapat perintah untuk hancurkan kapal-kapal Belanda di Teluk Manokwari, “besok saat fajar.”


Malam itu, pemerintah Belanda akhirnya menyerah pada tekanan Amerika. Di New York, pukul hampir tengah malam waktu Indonesia, perjanjian perdamaian ditandatangani.
Sementara itu, kapal selam itu sudah mulai dekat Teluk Manokwari. Di teluk itu, kapal Hr. Ms. Evertsen ada berlabuh tenang. Jam 3 pagi jarak tinggal sepuluh mil, dan serangan dijadwalkan jam 5. Tiba-tiba terdengar pesan lewat radio: “Batalkan serangan.” Komandan Rusia menarik napas panjang, dan kapal selam itu langsung berbalik arah kembali ke pangkalannya. Armada besar yang menuju Biak juga diperintahkan untuk pulang.
Di atas kapal Evertsen, para pelaut Belanda tidak tahu sama sekali bahwa mereka baru saja lolos dari bahaya besar.
Gencatan senjata
Di Merauke, pertempuran kecil melawan para pasukan payung yang dijatuhkan bulan Juni baru berhenti tanggal 18 Agustus 1962, hari dimulainya gencatan senjata antara Belanda dan Indonesia. Beberapa hari kemudian, para penerjun mulai keluar satu per satu dari hutan dan menyerahkan diri. Kapten Benny Murdani baru muncul tanggal 29 Agustus. Ia bersama tiga puluh orang lain selama berminggu-minggu sengaja hindari semua kontak tembak. Tidak lama kemudian ia dipromosikan menjadi mayor, dan diberi tanggung jawab sebagai komandan semua pasukan Indonesia di Irian Barat.

7.
Perpisahan
Apa kehendak Tuhan?
Di daerah zending tidak ada yang tahu bahaya yang sebenarnya mereka lewati. Pendeta Versluis pergi sekali lagi ke Boma, bersama pendeta Drost. Dalam perjalanan dari Kouh ke Boma dan waktu mereka bermalam di bivak, mereka bicara lama tentang apa sebenarnya maksud Tuhan dengan semua peristiwa ini, dan jalan mana yang harus mereka tempuh sekarang. Mereka berdoa dan menyanyi mazmur 25:2,
“Ajarl’aku jalan, Tuhan,
tunjukkanlah lorong-Mu
pimpin dalam kesungguhan,
ajar kebenaran-Mu.”
Beberapa tahun lalu, pintu untuk pekabaran Injil di KalBar sudah tertutup; itu sebabnya pendeta Van Benthem dan pendeta Klamer yang sebenarnya siap berangkat ke Kalimantan, mengubah rencana dan datang kerja di Papua. Apakah sekarang pintu ke Papua juga akan ditutup? Apakah mungkin Tuhan mau tunjukkan bahwa pekerjaan zending di sini — atau di Belanda — tidak sesuai dengan kehendak-Nya? Versluis dan Drost bergelut dalam doa dengan semua pertanyaan itu. Juga dengan pertanyaan pribadi: ke mana Tuhan mau mereka pergi? Di tengah hutan yang gelap mereka menyanyi mazmur 86:4,
“Ajar akupun berjalan
pada jalan kebenaran,
B’ri semuruh hatiku
takut akan Nama-Mu.”
Mereka tidak menemukan jawaban yang jelas. Bagi mereka sendiri, masa depan di Papua tampak tertutup. Dalam keadaan seperti ini, tidak mungkin lagi mereka membawa keluarga dan tinggal di Boma. Dan bagi para utusan lain di pos-pos sekitarnya, apakah keadaannya banyak berbeda? Sesudah penyerahan Papua kepada Indonesia, pemerintah Indonesia pasti akan ingin mengurangi pengaruh Belanda sebanyak mungkin.

Namun, Drost dan Versluis percaya bahwa ini belum berarti bahwa dengan demikian pekabaran Injil di wilayah Boven Digul akan berhenti. Pertama, sudah ada beberapa penginjil Papua yang bekerja dengan setia (Rumi, Sarwa dan teman-teman mereka). Selanjutnya, menurut Drost dan Versluis, tugas para utusan dari Belanda bisa dilanjutkan oleh pendeta dari Gereja Reformasi di Sumba. Mereka berdoa:
“Namun, marilah kita berdoa agar Tuhan memelihara pekerjaan-Nya. Semoga Tuhan menunjukkan dengan jelas jalan yang harus kita tempuh sekarang. Semoga Dia berbelas kasih kepada orang-orang di sini, yang kepadanya Dia mulai menerangi dengan Injil-Nya. Semoga Dia menganugerahkan kita hikmat untuk membuat keputusan yang tepat.”
Kembali ke Belanda
Di Belanda, gereja-gereja yang mengutus Versluis mulai merasa berat hati. Mereka memperhatikan bahwa pekabaran Injil sementara tidak berjalan. Maka mereka mengambil keputusan untuk memanggil Versluis pulang ke Belanda dulu, juga mengingat keadaan keluarganya. Istrinya Francelot sedang mengandung. Dengan demikian pendeta Versluis berangkat dari Papua en tiba di Belanda pada tanggal 24 November 1962. Hanya satu setengah minggu kemudian, Francelot melahirkan anak kedua mereka.
Pendeta Klamer mengerti alasan mereka pulang:
“Kami sudah lama tahu bahwa pos Boma terlalu berat bagi keluarga Drost. Baik pendeta Drost maupun gereja yang mengutusnya seharusnya melihat hal itu sebelum mereka dikirim kembali. Dan untuk pendeta Versluis, dia sudah terlalu lama bekerja sendirian di tempat yang bukan posnya sendiri. Itu tentu membuat dia letih dan tanpa semangat. Ia merasa, mungkin ini tanda dari tangan Tuhan, bahwa sudah waktunya berhenti.”
Setelah berdiskusi dengan Versluis, gereja-gereja di Belanda yang mengutusnya mencapai kesimpulan bahwa pembukaan pos Zending di daerah Kombai belum bisa dimulai. Karena itu, mereka memutuskan untuk tidak mengutus pendeta Versluis kembali ke Papua. Sebagai gantinya, mereka bekerja sama dengan gereja-gereja di Australia, dan mengutusnya ke sana untuk mengabarkan Injil kepada orang Aborigin di Roebourne, di bagian barat laut Australia.

Epilog
Pendeta Klamer mendengar gagasan Drost dan Versluis untuk menyerahkan pekerjaan zending kepada gereja-gereja di Sumba. Namun Klamer dan Van Benthem tidak sependapat. Mereka yakin bahwa tempat mereka tetap di Papua, karena Tuhan sendiri yang membuka pintu ini.
“Tuhan tahu kesulitan dan luasnya negeri ini,” tulis Klamer.“Ia tahu betapa dalam dan gelapnya kehidupan suku-suku di sini. Karena itu saya percaya: di mana Tuhan sudah mulai menyalakan terang Injil, di situ Ia juga memanggil kita untuk tetap bekerja, bukan hanya bertahan, tapi sungguh-sungguh melanjutkan pelayanan dengan iman.”
Beberapa bulan kemudian, semua orang yang sebelumnya dievakuasi ke Belanda kembali ke Papua, kecuali keluarga pendeta Drost, karena mereka memang sudah sebelumnya berencana untuk pulang tetap ke Belanda.

Pemerintah di Tanah Merah mengirim patroli polisi besar ke daerah kepala kali Mappi. Ketertiban dipulihkan di Boma dan kampung-kampung sekitar.
Waktu pendeta Drost mendengar bahwa Belanda sudah siap kirim penggantinya, hatinya tergerak lagi. Ia pun kembali bekerja. Pada kunjungan berikutnya, pintu gereja di Boma dibuka kembali, dan ibadah dimulai lagi. Pada hari Minggu sebelum Versluis terpaksa harus berangkat, dia selesai sampai akhir Perjanjian Lama. Oleh karena itu Drost mulai lagi dengan cerita dari Kejadian pasal 1. Para penginjil Papua juga mulai bekerja kembali. Pekerjaan Tuhan terus berjala

Sumber
ARSIP NGK (Archief- en Documentatiecentrum van de Nederlandse Gereformeerde Kerken – ADC) :
- Benthem, J. van, Laporan-laporan. Dalam: Zendingsarchief, Archiefnr 78, dos 14.
- Drost, M.K., Laporan-laporan. Dalam: Archief Zending Enschede, archiefnr 78, dos 56.
- Klamer, J., Laporan-laporan. Dalam: Archief zendende Kerk Spakenburg-Zuid, archiefnr 154, dos 10.
- Meijer, J.W., Laporan-laporan. Dalam: Archief Vereniging Mesoz, archiefnr 253, dos 5
- Rietkerk, J., Laporan-laporan. Dalam: Archief Vereniging Mesoz, archiefnr 253, dos 5
ARSIP TORONTO MISSION
- Laporan-laporan pdt Knigge
ARSIP NGK LEERDAM
- Laporan-laporan pdt Versluis
Arsip pdt J.P.D. Groen:
- Fanoy, A., laporan-laporan bulanan dan triwulan
- Meijer, J.W., Memoires, mengenai masa kerjanya di Papua (tidak diterbit)
- Boer, J., Mens wik maar God beskik. Autobiografi. (tidat diterbit)
Publikasi
- Bossenbroek, Martin, Russische duikboten voor Nieuw-Guinea. Dalam: Historisch Nieuwsblad, 2013/2023.
- Checkpoint. Magazine voor veteranen. 07/2022 (oktober). https://content.yudu.com/web/1r3p1/0A1zrki/CP2207/index.html
- Geus, P.B.R. de, De Nieuw-Guinea kwestie. Aspecten van buitenlands beleid en militaire macht. Leiden 1984.
- Drost, M.K., Guru-Opleiding in Nieuw-Guinea. Dalam: Mesoz-Stemmen, 6e jg no. 3 (Pebruari 1961).
- Elands, Martin, en Alfred Staarman (red.), Afscheid van Nieuw-Guinea. Het Nederlands-Indonesische conflict 1950-1962. Bussum 2003
- Hillen, H., Een kunstzinnig tijdsbeeld. Dalam: Andreas Schelfhout, De zomer van 1962. Voorburg 2012.
- Hoksbergen, Prof.Dr. René, Kroniek van Nieuw-Guinea, julid 3. Soesterberg 2024.
- Klamer: In het land van de Papoea’s. Dalam: Gereformeerd Gezinsblad, No. 28 (26 Januari 1962).
- Nieuws van Meschobor, no. 51 (Agustus 1962).
- Ons Zendingswerk op Nieuw-Guinea, 7e dan 8e jg (1962-1963).
- Peters, Frans H., Vervlogen verwachtingen. De teloorgang van Nieuw-Guinea in 1961-1962. Leiden 2010 (KITLV)
- Peters, T., Nederlands Nieuw Guinea. 1945-1962. Een naoorlogse kroniek. Den Haag 1993
- R.E. van Holst Pelikaan, I.C. de Regt, J.F. Bastiaans, Patrouilleren voor de Papoea’s, de Koninklijke Marine in Nederlands Nieuw-Guinea 1945-1962, julid 2. Amsterdam 1990.
- Rietkerk, J.P.M., Van Papoea tot Genemuiden. Memoar, diterbitkan atas tanggungan sendiri, sekitar 2001.
- Roos, G.K.R. de, Nieuw Guinea. De marinierskant van het verhaal. ‘s-Gravenhage 1979.
- Steen, Paul van der, De Slag bij Vlakke Hoek. Dalam: Historisch Nieuwsblad, 23 Pebr. 2010, update 7 April 2020.
- Van Galen, John Jansen, Ons laatste oorlogje. Weesp 1984.
- Vogelaar, L. Op de bres voor Nieuw-Guinea. Apeldoorn 2013.
Internet:
- https://en.wikipedia.org/wiki/Operation_Trikora#:~:text=On%2019%20December%201961%2C%20President,West%20Papua%20from%20Dutch%20imperialism
- https://javapost.nl/2019/12/01/onderzeeboot-patrouilles-bijnieuw-guinea/
- https://www.biografiku.com/biografi-benny-moerdani/
- www.mariniersnieuwguinea61-62.nl
Bahan yang tidak dipublikasi:
- Boer, J., Mens wik maar God beskik. Outobiografie.
Nara sumber:
- Genemo Forki, wawancara, 12 Maret1996
- Yonatan Momelemi, wawancara, 2 Januari 2023
- Mia Mikan, wawancara, 2 Januari 2023
- Lukas Kulehalemi, wawancara, Sentani 12 Januari 2023.
- Jan Versluis, September/Oktober 2025
- Nico Boer, September/Oktober 2025
–//–
