30 – Kepercayaan: sejarah Landanuop

Panorama Kouh 1958
Kampung Kouh di tepi kali Digul, 1958-1959. Bagian kiri foto dari JW Meijer, bagian kanan foto dari Van Benthem.

Pembagian

  1. Kouh
  2. Sesuai rencana
  3. Tak terduga
  4. Selanjutnya
  5. Sesudahnya
    Catatan
    Sumber

1. Kouh

1.1 Sejarah terjadinya

Deretan empat belas rumah di pinggir kali Digul, dan suatu pasanggrahan sedikit lebih jauh ke utara: itulah Kouh pada bulan Mei 1958. Sejak bulan Januari 1957 tempat ini mulai kelihatan seperti kampung, dengan kepala kampung yang bernama Mujalo Kwanimba. Dialah Kakum (Kor) punya ayah. Dia seorang Wambon, dari seberang kali Digul, sedikit lebih jauh ke atas.

Kouh 027-L-b6-k
Kouh, kepala lama Mujalo Kwanimba.

Orang kulit putih dari Tanah Merah makin sering mampir ke sini: tenaga polisi, pegawai Bestuur (pemerintah Belanda di Tanah Merah), dokter, dan baru-baru ini juga beberapa kwai yang belum mereka kenal, tetapi yang tampaknya sangat tertarik pada mereka.

Perkembangan itu merupakan alasan bagi semakin banyak orang di pedalaman untuk membangun rumah di sini. Rumah-rumah itu mereka bangun sebagai tempat untuk bertemu dengan orang asing itu, karena mereka selalu ada bawa sesuatu, bahkan jika itu hanya tembakau.

Setahun yang lalu hanya ada 6 rumah di sini. Berarti, jumlah penduduk sudah meningkat lebih dari dua kali lipat. Itu sebabnya Bestuur sudah mengangkat Wanggumop menjadi kepala kampung baru, mengganti kepala yang lama. Wanggumop adalah seorang Kombai, suku yang tinggal di pedalaman di bukit-bukit di antara sungai Digul, Mappi, dan Ndeiram. Anaknya Angke bangga akan ayahnya, terutama ketika dia berjalan-jalan dengan pakaian seragamnya.

Kouh 038-L-b7-k
Kouh, 1961. Kepala kampung, yang bernama Wanggumop, dalam pakaian dinas.
Meijer-Kouh 082-L
Kouh 1960. Kepala kampung (Wanggumop) sudah tangkap Kasuari. Dengan anaknya Angke yang kemudian menjadi istri bpk Kor / Kakum.

1.2 Landanuop

Di dapur di belakang salah satu rumah kampung seorang gadis yang berumur sekitar 13 tahun sedang tidur di lantai. Namanya Landanuop. Di tengah dapur ada tempat api. Dia sering tidur di sana. Tapi kali ini terjadi celaka besar. Ketika dia berbalik dalam tidurnya dia kena api yang menyala di tempat api itu. Dia segera bangun dan berteriak kesakitan. Tetapi terlambat, punggungnya sudah terbakar sekali.

Orang tuanya, Waninya dan Walumayo, coba tutup lukanya dengan daun, tetapi itu tidak banyak membantu. Mustahil untuk menjauhkan semua lalat dari lukanya. Segera luka mulai meradang. Dia demam. Orang-orang kampung datang untuk melihat dan memberi nasihat. Seorang pria yang dikenal sebagai tukang sihir yang dapat menyembuhkan orang datang dengan jenis daun tertentu dan menggumamkan mantra yang tidak dapat dipahami, tetapi itu tidak berhasil. Luka yang bernanah itu semakin menjijikkan. Demam melelahkan anak itu dan merampas nafsu makannya. Waninya dan istrinya tidak berdaya. Tampaknya putri mereka tidak akan selamat dari bencana ini. Keadaannya buruk dan dia makin kurus.

 

Map I-255-L kapal Ichtus
Bapak guru Meijer dengan kapal Ichthus di Kouh.

1.3 Bunyi

Kampung itu sering kosong, dan para penduduknya biasa tinggal di rumah-rumah tinggi di hutan. Bagi mereka, rumah-rumah kampung sebenarnya semacam bivak, sedangkan rumah betul itu rumah tinggi di dusun. Di sana ada mereka punya kebun dan sagu, dan di sana mereka tahu setiap bukit dan setiap kali kecil. Di sana mereka merasa aman dan tenang.

Tetapi akhir-akhir ini orang ada lagi di kampung. Salah satu dari kwai baru di Tanah Merah baru-baru datang lagi dengan kapalnya. Di dapurnya, Landanuop sudah dengar bunyi motor itu. Setelah dua malam dia dengar bahwa motor dihidupkan lagi dan bahwa kapal itu pergi. Bunyinya menghilang ke utara. Suasana di kampung kembali sepi.

Beberapa hari kemudian dia mendengar bunyi motor lagi: kapal itu kembali dan berlabuh lagi di kampung. Baru beberapa kali terdengar bunyi helikopter juga. Itu pasti heli dari perusahaan yang mencari minyak dan yang mempunyai bivak lebih jauh ke atas. Sudah berkali-kali orang kampung pernah lihat heli itu terbang lewat, tetapi kali ini sepertinya dia mau mendarat di sini. Landanuop dengar ribut orang-orang kampung yang dengan penuh semangat berlari ke sana – sungguh pengalaman yang luar biasa! Tapi Landanuop tidak kuat lagi untuk pergi lihat.

Rumah-rumah kampung berdekatan dan dinding gaba-gaba agak tipis. Pada suatu hari suara kepala desa terdengar, yang mengumumkan dengan suara keras bahwa tuan Meijer mau jalan ke Werarop; dia membutuhkan orang yang bisa ikut untuk pikul barangnya. Hampir tidak ada yang bersemangat, tetapi pada akhirnya ada lima orang yang mengaku mau ikut. Sesudah mereka pergi, kampung sepi kembali.

Kouh 002-L
Kouh dilihat dari utara sekitar muara kali Kouh. Rumah-rumah kampung tidak terlihat.
T1-2 R001-013 TI2-L
Kouh, patroli Meijer ke Werarop, 27-31 Mei 1958. Para pengikutnya: dengan pakaian dinas di depan: kepala kampung Wanggumop; pakai baju di belakang: Yakob Deda. Di belakang kanan: ‘koki’ (juru masak) dari pk Meijer.

 

1959 Kouh
1959 Kouh; duduk dekat api di rumah yang masih belum selesai.

1.4 Tamu

Hari-hari berlalu. Sudah berapa lama dia berbaring di sini?

Pada suatu sore ada teriakan dari hutan. Ternyata patroli kembali dari Werarop. Kemudian menjadi ramai di kampung. Tuan Meijer membagi-bagikan kapak dan parang dan menyuruh orang membersihkan tempat di mana dia mau bangun suatu rumah. Rumah itu nanti akan dipakai oleh dia sendiri atau oleh teman-temannya. Semua orang senang sekali, karena hal itu akan membuat kampung mereka diirikan oleh kampung-kampung lain di sepanjang kali Digul!
Landanuop dengar orang berbicara tentang hal itu, tetapi dia rasa sangat sakit dan menderita betul. Helikopter datang mendarat beberapa kali lagi, tetapi dia tidak peduli. Punggungnya perih, demamnya membara, dan dia hampir tidak bisa bangun lagi.

Pada suatu sore dia setengah tertidur ketika bunyi gedebuk melewatinya. Ada orang yang masuk rumah. Beberapa saat kemudian, dia mendengar bapak panggil dia datang. Dengan seluruh kekuatannya dia berdiri dan berjalan ke bagian depan rumah.

2. Sesuai rencana

2.1 Patroli

Perjalanan Meijer sudah hampir berakhir. Sekitar dua minggu yang lalu dia berangkat dari Tanah Merah dengan kapal zending Ichthus. Seperti biasa Yakob Deda ikut sebagai juragan, dan pembantunya Embok ikut sebagai juru masak. Setelah berhari Minggu di Kouh, mereka berlayar terus ke kampung Arup. Di sana ternyata suasana resah. Ada kabar-kabar angin mengenai pembunuhan; orang mengatakan bahwa orang hutan mau datang menyerang kampung itu untuk balas dendam. Akibatnya ada sangat sedikit orang di kampung.

MKDrost-F 010-L
Yakob Deda di kapal Ichthus.

Setelah dia kembali ke Kouh, dia pergi ke Werarop. Dengan lima orang yang pikul barang dan dengan bapak Wanggumop sebagai pemandu dan juru bahasa mereka masuk hutan untuk perjalanan dua hari. Sore hari berikut mereka dengan lelah masuk Werarop. Ternyata orang tidak ada, kampung kosong. Besok pagi Wanggumop keluar cari orang. Sore dia kembali dengan tiga bapak. Mereka bilang bahwa bapak tua yang semacam pemimpin di sini baru saja meninggal. Setelah kematiannya, orang sudah bunuh makan babinya lalu masuk hutan karena tentu saja mereka tidak mau tinggal di tempat di mana ada kematian.

Jadi kunjungan ke Werarop tidak berhasil dan mereka kembali ke Kouh. Sekali lagi dua hari jalan kaki di hutan. Malam itu ada hujan lebat dan bivak ternyata tidak mampu menahannya: atapnya bocor sekali. Meijer menghabiskan malam itu di tempat sempit yang tidak terlalu basah di bawah kelambunya, berjongkok dengan selimut menutupi tubuhnya. Sungguh bukan perjalanan yang menyenangkan.

Digul-Mapi_Patroli_Mei_1958

T1-1_R001-004_TI1-L
Werarop, 29 Mei 1958. Kampung kosong.

2.3 Rencana

Tujuan utama perjalanan ini adalah Kouh. Pendeta Drost sudah beberapa kali pernah kunjungi kampung ini. Pertama pada bulan September 1957 ketika ia untuk pertama kalinya naik kali Digul dengan kapal Ichthus [bnd posting nomor 9]. Pada perjalanan kedua dia bahkan bermalam di sini dan seseorang dari Kouh sudah ikut dia ke Arup. Dan pada awal patroli besar dari Bestuur ke daerah Kombai sekali lagi dia tinggal beberapa malam di kampung ini. Saat itu dokter Bijkerk mengadakan poliklinik di sini. Dari ke-11 pasien yang diperiksanya tampaknya banyak yang sakit mata, sedangkan satu-dua dapat luka frambusia. Beberapa saat kemudian tuan Meijer juga bermalam di sini, ketika dia dengan kapal Ichthus menuju ke Firiwage untuk menjemput patroli di sana (bnd posting nomor 15).

Setelah itu ada orang dari Kouh yang mengunjungi Drost dan Meijer di Tanah Merah. Oleh sebab itu sekarang saatnya untuk melanjutkan. Pada tanggal 18 Mei, Drost dan Meijer mengusulkan kepada gereja di Belanda untuk “membuat persiapan pertama untuk penginjilan dan pendidikan di kampung Kouh pada pertengahan tahun ini.” Kampung Kouh rupanya lebih maju dibandingkan dengan kampung-kampung lain di sepanjang Digul. Dalam perjalanan tadi ke Arup, Meijer juga mampir di Tiwi dan di Jawo, tetapi Kouh jelas memiliki potensi yang lebih besar. Letaknya di tengah jalan dari Tanah Merah ke Arup juga cocok sekali untuk rencana kerja zending di wilayah ini.

2.4 Pelaksanaannya

Walaupun jawaban dari Belanda belum diterima, kunjungan Meijer ke Kouh bersifat kunjungan persiapan. Dia pakai waktu untuk memperkuat hubungan baik dengan masyarakat kampung dan untuk menjelaskan apa rencana zending.

Kembali dari perjalanan yang sia-sia ke Werarop, dia tidak hanya berbicara saja. Bersama dengan masyarakat kampung dia mencari tempat untuk membangun rumah zending. Memang benar bahwa belum pasti seorang pendeta bersama keluarganya akan menetap di sini, atau apakah rumah yang mau dibangun itu hanya akan menjadi tempat di mana petugas zending kadang-kadang bisa menginap selama beberapa minggu. Tetapi bagaimanapun juga, di sini akan dibangun semacam pangkalan untuk kegiatan zending seterusnya di wilayah Digul atas.

Dia pinjamkan 5 kapak dan 5 parang kepada masyarakat kampung, supaya mereka akan membuka dan membersihkan tempat yang dipilih. Baru selama satu minggu tiap pagi orang ramai kerja. Sekitar siang besar mulai terlalu panas untuk melakukan kerja berat baru orang pergi istirahat dan mencari tempat sejuk di rumah atau di hutan.

Kouh 1958 - 1961 - Jpdg

2.5 Ibu Henny

Tidak terlalu jauh dari Kouh, perusahaan minyak ada bivak untuk melakukan eksplorasi untuk mencari bahan bakar fosil. Untuk hubungan dengan Tanah Merah mereka menggunakan suatu helikopter. Ketika Meijer baru saja kembali dari perjalanannya ke Arup, helikopter itu datang mendarat di Kouh. Pilot telah melihat kapal Ichthus dan mau tahu siapa yang ada di situ. Ternyata Meijer dan dia sudah saling kenal dari Tanah Merah. Dia bersedia membawa surat dari Meijer untuk istrinya Henny yang sudah dua minggu tidak mendengar kabar dari suaminya. Hari berikut dia sudah membawa balasannya.

Satu hari sesudah dia pulang dari Werarop helikopter datang lagi. Kali ini pilot tidak ada waktu untuk menunggu surat, tetapi dia janji untuk sampaikan salam. Besok pagi dia datang kembali. Meijer mengira dia membawa surat lagi dari istrinya, tetapi yang sangat mengejutkannya, Henny sendiri datang untuk mengunjungi suaminya dan untuk melihat lapangan kerja di Kouh, di mana kemudian pekabaran Injil akan dimulai. Sesudah beberapa jam helikopter datang menjemputnya dan dia pulang ke Tanah Merah. Masih beberapa hari lagi baru Meijer sendiri akan pulang juga.

MKDrost-F 003-L
Heli dari perusahaan minyak di Tanah Merah. Dari kiri ke kanan: ?, Yakob Deda, bpk Meijer, anak Drost, pilot, ?.

 

3. Tak terduga

3.1 Landanuop

Sore hari, ketika matahari telah mulai terbenam dan suasana tidak terlalu panas lagi, kampung mulai hidup kembali. Biasanya Meijer berjalan-jalan untuk mengobrol dengan orang kampung.

Pada hari terakhir sebelum dia akan pulang ke Tanah Merah dia datang sampai di rumah Waninya. Bolehkah saya masuk?Bisa! Pintu rumah dibuka lebih jauh, Waninya ambil sebatang kayu di mana tuan Meijer bisa duduk, baru mereka berbincang-bincang. Pada satu titik Waninya bilang: “Ada orang sakit di rumah, mungkin tuan bisa lihat dia kah?” Tentu itu bisa! Meijer biasa coba tolong orang sakit yang dia temukan di kampung. Orang di sini tidak ada bantuan medis sama sekali – terlepas dari apa yang mereka tahu tentang daun-daun pohon khusus di hutan yang bisa dipakai untuk mengobati kesakitan-kesakitan tertentu.

Waninya memanggil ke belakang dan tak lama kemudian seorang gadis berusia sekitar tiga belas tahun datang dengan menyeret. Meijer terkejut: betapa buruknya kondisi anak itu! Dia kurus dan ada luka yang meradang parah di punggungnya. Panjangnya luka itu sekitar 40 cm dan lebarnya 25 cm. Dari cerita orang tuanya, Meijer menyimpulkan bahwa sudah sekitar dua bulan sejak dalam tidurnya dia berguling ke dalam api. Sejak itu gadis yang kasihan itu menderita terbaring di dapur rumah. Lukanya berbau busuk dan dia sangat kotor.

Waninya minta suntik untuk anaknya, maka dia pasti akan cepat sembuh.
Suntik? Hanya ada satu pilihan: anak itu harus segera ke rumah sakit! Meijer insaf benar akan hal itu. Tapi apakah itu bisa kah…?

053 6 CAVersluis 22 53-L-b
Tanah Merah, sekitar 1960. Rumah sakit (?).

3.2 Dilema

Meijer menghadapi keputusan yang sulit. Dia sendiri tidak bisa buat apa-apa untuk menyembuhkan anak itu. Kalau orang dapat luka frambusia dia bisa memberikan suntik penisilin. Suntik seperti itu dijamin sukses, setelah beberapa hari luka itu pasti akan hilang. Tetapi akibatnya bahwa sekarang orang pikir bahwa suntik ajaib itu juga bisa membantu semua penyakit lain, dan tentu saja tidak demikian.

Jika anak ini tidak dapat bantuan medis, kemungkinan besar dia akan mati. Dia benar-benar harus ke rumah sakit. Tapi apakah dia akan dapat izin untuk membawa anak itu ke Tanah Merah? Orang tua itu berharap dia bisa membantu mereka punya anak di sini. Akankah mereka membiarkan anak ini dibawa ke Tanah Merah? Itu tentu akan menjadi langkah yang berani bagi mereka! Mengirim anak mereka ke dunia yang tidak mereka kenal, dengan seorang kulit putih yang hampir tidak mereka kenal juga, tanpa kepastian apakah akan itu akan kembali dari Tanah Merah dalam keadaan sehat…

Tapi bukankah langkah itu terlalu berani untuk Meijer sendiri juga? Seandainya anak itu tidak selamat dan nanti akan mati di Tanah Merah, apa akibatnya? Minggu ini dia mulai bekerja dengan masyarakat kampung dengan ramai dan semangat. Tapi jika dia membawa gadis itu ke Tanah Merah, bukankah dia mempertaruhkan semua yang dia telah capai sejauh ini di sini? Bukankah hasil yang buruk akan mengakibatkan kemunduran besar bagi rencana zending di Kouh? Bisa saja masyarakat nanti berbalik melawannya. Mungkin saja mereka akan meninggalkan kampung ini, seperti yang dilakukan oleh masyarakat di Werarop. Bolehkah dia mengambil risiko itu?

Di sisi lain, tidak mungkin dia menolak belas kasihan karena takut masalah yang mungkin akan muncul. Tuhan telah menempatkan anak ini di jalannya, tidakkah dia harus percaya bahwa Tuhan juga akan memastikan bahwa anak itu akan sembuh?

3.3 Ke Tanah Merah

Pembicaraan dengan orang tua anak itu agak sulit. Ada orang kampung lain yang sudah datang masuk rumah. Melalui juru bahasa Meijer berusaha menjelaskan bahwa dia tidak dapat memberi kepastian bahwa gadis itu nanti akan kembali dengan sehat. Gadis itu benar-benar dalam keadaan buruk. Mereka harus mengerti baik bahwa pemulihannya tidak terjamin. Bisa saja dia nanti akan mati di Tanah Merah.

Semua orang ikut berbicara. Setelah menjelaskan masalahnya, Meijer duduk tunggu. Agak menegangkan bagi dia. Diskusi yang hidup itu berlangsung dalam bahasa Kombai, sehingga dia tidak bisa mengerti satu kata pun dari apa yang mereka bicara. Sudah mulai gelap, matahari sudah terbenam.

Akhirnya mereka sudah mencapai keputusan. Dan ajaib besar: orang tua setuju! Dia bisa bawa Landanuop ke rumah sakit di Tanah Merah. Sebenarnya, bukan hanya orang tua, tetapi seluruh masyarakat kampung menyatakan dengan keputusan ini bahwa mereka mempunyai kepercayaan besar terhadap dia.

3.4 Juru bahasa

Ada satu masalah lagi: Landanuop tidak tahu bahasa Melayu dan di Tanah Merah tidak ada orang yang bisa berbicara bahasa Kombai. Oleh karena itu akhirnya mereka pilih seorang anak laki-laki yang tahu bahasa Kombai dan bahasa Mandobo supaya dia akan ikut ke Tanah Merah. Embok, pembantu pak Meijer, tahu bahasa Mandobo dan bahasa Melayu. Dengan menggunakan dua juru bahasa itu nanti orang di Tanah Merah dapat berkomunikasi dengan Landanuop.

Besok pagi orang tua membawa Landanuop ke kapal Ichthus. Beberapa saat kemudian, Yakob Deda menyalakan mesin, dan kapal terlepas dari pinggir dan perlahan-lahan naik kali Digul baru putar ikut arus ke selatan. Di tepi kali yang tinggi, orang kampung berdiri menonton. Ada yang melambaikan tangan. Orang tua dari Landanuop memandang kapal itu bergerak pergi. Mereka terombang-ambing antara harapan dan ketakutan. Dengan sikap untung-untungan mereka sudah membiarkan anak kesayangan mereka pergi. Akankah mereka melihatnya kembali?

Meijer-A P35-1-Lb
Tanah Merah, 8 Juni 1958. ibu Henny Meijer dengan Landanuop di rumah sakit di Tanah Merah.

4. Selanjutnya

4.1 Perawatan

Di rumah sakit, Landanuop adalah anak kesayangan semua orang. Lukanya dirawat, dia diberi obat untuk melawan infeksi. Ketika luka sudah benar-benar bersih, tampaknya penyembuhan lebih lanjut menuntut transplantasi kulit. Hal itu tidak bisa dibuat di Tanah Merah, jadi dia dipindahkan ke Hollandia.

Landanuop membiarkan semuanya terjadi dengan sabar: penerbangan dengan pesawat, kemudian perjalanan dengan ambulans ke rumah sakit. Dia sudah mempunyai kepercayaan terhadap orang-orang di sekitarnya. Sementara itu dia juga telah belajar beberapa kata bahasa Melayu, sehingga anak laki-laki dari Kouh yang telah membantunya sebagai juru bahasa tidak perlu ikut lagi.

Hollandia-Binnen met ziekenhuuis-L
Hollandia-kota, sekitar 1956. Di sebelah kanan bawah adalah rumah sakit.

Di rumah sakit di Hollandia, dokter mengambil potongan-potongan kulit setipis kertas dari kakinya dan meletakkannya di atas luka. Dan untungnya, perawatan itu berhasil. Pelan-pelan luka itu ditutup dengan kulit baru. Setelah beberapa minggu Landanuop sudah bisa kembali ke Tanah Merah. Di sana dia tinggal sebentar dengan keluarga bapak Meijer sebagai pembantu rumah tangga untuk belajar segala macam hal sebelum kembali ke orang tuanya di Kouh. Semua orang sangat senang dan lega karena semuanya sudah berjalan dengan baik.

Meijer-A p35-2-L.JPG
Tanah Merah, 30 Nopember 1958. Landanuop membantu di rumah Meijer di Tanah Merah.

4.2 Kembali di Kouh

Sementara itu zending mulai membangun gedung sekolah di Kouh yang dibuka secara resmi pada tanggal 24 Maret 1959. Sekolah itu diberi nama Mofenanti: “satu-satunya”, sebagai acuan kepada Allah yang satu-satunya.

Landanuop sudah terlalu besar untuk masuk kelas satu. Itulah sebabnya dia masuk kelas malam, bersama dengan beberapa pemuda lain. Di sana guru Meijer mengajar dia membaca dan menulis.

Kouh 057-L8-k
Kouh, papan nama di sekolah Mofenanti, dengan murid-murid pertama.
Kouh 062-L.JPG
Kouh sekitar 1959-1960. Sekolah kelas malam. Di paling kiri: Landanuop.

Kemudian hari Landanuop menikah dengan Biokok Dombanop. Mereka dapat tiga anak, semuanya laki-laki. Yang pertama dapat nama Oto. Saat itu oto adalah kata yang dipakai untuk mobil. Di Hollandia Landanuop telah diangkut dengan mobil dari bandara ke rumah sakit, dan sekali lagi ketika dia kembali. Pada waktu itu sama sekali belum ada mobil di Tanah Merah, dan tidak ada seorang pun di Kouh yang pernah lihat mobil.

Anak keduanya bernama Simon. Saat melahirkan anak ketiga Landanuop meninggal dunia. Anak itu memang selamat, tetapi  meninggal di usia muda.

Kedua anak laki-laki itu menikah. Natanael dan Yorin lahir dari pernikahan Oto. Sekarang Nataniel juga sudah menikah; dia dapat dua anak.
Simon dapat seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, yang bernama Kosmas dan Selpina.

Ketika pada tanggal 20 Desember 1967 (untuk pertama kalinya!) 50 orang Kouh minta baptisan, salah satu dari mereka ialah Biokok. Pada daftar nama yang ibu guru Nieboer kirim ke Belanda, tertera namanya: “Biokok, menikah, tiga anak, buta huruf, mengikuti katekisasi.” Ternyata Landanuop sudah meninggal sebelumnya. Biokok dibaptis pada bulan Juli 1968.

Pada tahun 1980-an Biokok menjadi penatua. Lebih dari 30 tahun kemudian, anaknya Oto juga anggota majelis gereja, dan pada tahun 2021 ia ambil bagian dalam perayaan peringatan HUT GGRI ke-63.

Oto_Dombanop_dn_Dokumo_Allu_-_Lukas_Womsiwor-L
Kouh 2021. Oto Dombanop dengan istrinya Dokumo Allu.
Kouh 10-8-2021 Lukas-02-L
Kouh, 10 Agustus 2021, HUT-63 GGRI-P. Dari kiri ke kanan: Oto Dombanop, Welem Weremba, Lukas Womsiwor, Abraham Weremba, Lamek Weremba.

5. Sesudahnya

5.1. Aku menyertai kamu!

Ketika Tuhan memanggil Musa dari tengah-tengah semak duri yang menyala untuk mengirimnya ke Mesir, Dia berkata kepadanya:

“Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.” (Kel. 3:12).

Itulah merupakan tanda yang pada saat itu tidak banyak berguna bagi Musa. Baru setelah Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir ke gunung Sinai, tanda ini membenarkan janji Allah itu. Artinya: sesudah semuanya itu telah terjadi. Intinya adalah bahwa Musa harus percaya janji itu: Aku akan menyertai engkau.

Janji yang sama diberikan kepada Yosua ketika ia harus memimpin bangsa Israel memiliki tanah Kanaan, negeri yang pada saat itu diduduki bangsa dan suku yang lebih kuat dari pada orang Israel:

“Seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu!” (Yosua 1:5-6).

Berabad-abad kemudian, ketika Yesus mengutus murid-murid-Nya ke dunia dengan Injil, kata-kata yang sama itu terdengar lagi dari mulut-Nya:

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat. 28:20).

Janji itu menyerukan orang untuk bergerak dengan penuh percaya. Pembenaran akan menyusul sesudahnya: di gunung Sinai; di tembok kota Yerikho; tanda-tanda yang menyertai pemberitaan Injil oleh para murid Yesus. Baru setelah orang telah melakukan apa yang ditugaskan kepada mereka, mereka harus mengaku bahwa janji itu benar: ternyata Dia telah menyertai mereka!

5.2 Landanuop

Sesudah Landanuop dengan sehat kembali ke Kouh menjadi jelas bahwa kejadian ini telah sangat memperkuat ikatan antara masyarakat Kouh dan zending. Waninya dan Walumayo seakan-akan telah terima kembali anak kesayangan mereka dari kematian. Mereka sudah taruh pengharapan mereka pada tuan Meijer, dan dalam hal itu mereka tidak dipermalukan.

Meijer sendiri bernapas lega: semuanya berakhir dengan sangat baik. Bisa saja peristiwa ini berakhir dengan sangat berbeda. Terima kasih Tuhan! Sesungguhnya, setiap orang yang dengan berharap dan percaya kepada Tuhan Allah ikut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya tidak akan malu.

Tetapi itu hanya bisa dilihat sesudahnya!

Meijer sudah mulai bekerja di Kouh dengan penuh semangat. Sebelumnya Drost dan Meijer bersama-sama telah membuat rencana, suatu strategi. Banyak yang masih belum jelas, dan belum seluruhnya sudah tetap dan pasti. Tetapi yang jelas bagi mereka adalah bahwa mereka harus memulai di sini di Kouh. Dengan rencana kerja itu Meijer sudah berangkat ke Kouh, dan di sana ia sudah mulai mengatur persiapan rumah zending yang mau dibangun. Kerjanya berjalan lancar di sana. Semuanya berlangsung sesuai rencana.

Baru tiba-tiba ada gadis yang sakit keras itu, yang menghadapkannya pada situasi yang tak terduga dalam rencana itu. Pada saat itu dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menyerahkan segalanya ke dalam tangan Tuhan, dengan takut dan gentar.

Dan puji Tuhan, sesudahnya semua orang harus mengaku bahwa Dia selalu sudah ada. Dia sudah ada di Kouh sebelum Meijer datang. Malam itu ketika Landanuop berguling ke dalam api – mengerikan! Tetapi Tuhan telah menggunakan peristiwa itu untuk rencana-Nya. Dia jalan di depan.

5.3 Dorongan

Bahkan jika semuanya berjalan sesuai rencana, kita harus selalu menyadari bahwa bukan rencana kita yang di atasnya Allah membangun gereja-Nya. Justru sebaliknya: ini adalah pekerjaan Tuhan! Dia membangun gereja-Nya dan kita dipanggil untuk ikut membangun dengan keyakinan penuh kepada Ahli bangunan. Jika kita melakukan itu, kita akan mengalami berulang-ulang kali bahwa Dia menyertai kita.

Dengan demikian sejarah Landanuop adalah tanda yang sesudahnya menggembirakan bagi Meijer dan Drost. Kejadian itu merupakan dorongan bagi mereka untuk terus mengikuti Dia, bahkan jika mereka kadang-kadang kehilangan kendali dan rencana yang telah mereka buat tampaknya dibahayakan. Ketahuilah, aku menyertai kamu!

Sejarah ini merupakan dorongan juga untuk Landanuop, dan kemudian untuk suaminya, anak-anaknya, dan cucu-cucunya. Tuhan telah menyertai dia ketika dia, sebagai anak yang takut dan penuh ketidakpastian, dibawa ke Tanah Merah, dan terus ke Hollandia. Dia yang menyembuhkannya dan membawanya kembali dan membuatnya menjadi berkat bagi suami dan keturunannya.

Dan semuanya itu merupakan dorongan – sesudahnya! – untuk jemaat di Kouh juga. Ketika Landanuop dibawa ke Tanah Merah dia belum mengenal Allah. Tetapi Allah mengenal anak yang sakit itu, dan Dia menyembuhkannya. Karena Dia mau pakai gadis yang rapuh yang hampir mau mati itu serta keturunannya untuk membangun jemaat-Nya di Kouh. Sejarah Landanuop adalah suatu tanda juga untuk generasi yang akan datang:

Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN! (Mz 31:25).

Agung_100821-04-L
Kouh, 10 Agustus 2021, HUT-63 GGRI-P. Pendaftaran para hadirin.
Agung 100821-05-L
Kouh, 10 Agustus 2021, HUT-63 GGRI-P. Anak-anak siap masuk gereja untuk ikut perayaannya.
Agung_100821-11-L
Kouh, 10 Agustus 2021, HUT-63 GGRI-P.

 

Catatan:

Landanuop adalah adik dari alm. bpk Tomas Weremba

Sumber:

  • J.W. Meijer, surat ttgl 18 April 1958 (ADC, Kampen: Archief Vereniging Mesoz, Arch nr 253, plaats A5, doos 5)
  • J.W. Meijer, laporan ttgl 5 Juni 1958 (ADC, Kampen: Archief Vereniging Mesoz, Arch nr 253, plaats A5, doos 5)
  • J.W. Meijer, ‘Memoires’ (milik pribadi)
  • J.W. Meijer, korespondensi pribadi.
  • M.K. Drost, laporan kerja ttgl 23 September 1957 (ADC, Archief- en Documentatiecentrum van de Gereformeerde kerken in Nederland, Zendingsarchief, archiefnummer 78, doos 56).
  • H. Bijkerk, Verslag Toernee naar het Manggono- en Arupgebied van 10 februari t/m 6 maart 1958, No.: 338/Tm5, Tanah Merah 15 mei 1958. Rapport aan de Directeur van Gezondheidszorg te Hollandia Binnen. (Milik pribadi, salinan diterima dari pdt Drost)
  • E. Nieboer, surat kepada GZC (panitia zending Gereja Groningen) ttgl 19 Desember 1967 (ADC, Kampen: Archief Vereniging Meschobor, Arch nr 23, plaats A4, doos 2)
  • Oto Dombanop, cerita mengenai Landanuop (rekaman Lukas Womsiwor 12 Agustus 2021)
  • Kolombu Kwanimba, informasi lisan (13 dan 17 September 2021)
  • Ibu pdt. Drost, informasi lisan (14 September 2021)
  • E. Janmaat (dokter pemerintah di Tanah Merah 1960-1963), informasi lisan (email 15 September 2021)
  • T.P. Nap, khotbah 22 Agustus 2021 mengenai Keluaran 3:12 (kerkdienstgemist.nl)

 

 

This entry was posted in .