20 – Mencari Lapangan Pekabaran Injil

Drost berangkat dari Belanda
Pada tanggal 6 September 1956 pendeta Drost dengan istri dan tiga anaknya yang kecil berangkat dari Belanda menuju ke Papua

Mencari tempat baru untuk pekabaran Injil

Pada tanggal 6 September 1956, Pendeta Drost dan keluarganya berangkat dari Belanda untuk pergi ke Nederlands Nieuw-Guinea (‘New Guinea Belanda’, kini Papua).1, 2 Dia adalah misionaris pertama yang diutus oleh Gereja-Gereja Reformasi di Belanda untuk memberitakan Injil di pulau ini. Dia diberikan tugas untuk menemukan daerah di mana belum ada gereja atau lembaga pekabaran Injil yang bekerja.
Daerah yang dicari itu harus cukup luas, dan penduduknya cukup banyak, supaya nanti juga misionaris lain yang diharapkan akan diutus, bisa bekerja di situ.

Berangkat

Tidak tahu ke mana

Artinya, Gereja di Enschede3 tidak mengutus pendeta Drost ke Boven Digoel. Dengan sengaja wilayah dan tempat di mana dia harus membuka pos pekabaran Injil dibiarkan terbuka. Waktu pendeta Drost berangkat dari Belanda, dia sama sekali belum tahu di mana dia akan menetap. Dia belum pernah ke Papua, dan belum tahu tempat-tempat mana yang belum terjangkau oleh Injil. Tetapi bersama dengan istri dan tiga anaknya yang kecil, dia pergi ke tanah yang tidak dikenal.

Dalam kekuatan Kristus

Dalam kebaktian perpisahan pada hari Kamis tanggal 30 Agustus di Enschede, pendeta Drost berkhotbah mengenai Filipi 4:13, di mana ada tertulis:

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Pendeta Drost menjelaskan bahwa bukan sembrono rasul Paulus mengucap kata-kata itu. Paulus telah belajar hal itu dalam jalan hidupnya (lihat ayat 12). Rahasia hidup Paulus adalah Kristus, yang memberi kekuatan kepadanya. Kristus yang telah berkata kepadanya, Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu (2 Korintus 12:9). “Ucapan Paulus ini” – kata Drost – “harus tetap menjadi perhatian kita sepanjang hidup kita. Karena itu, bagi saya, saya menerima tugas ini dengan keyakinan bahwa kuasa Allah justru disempurnakan dalam kelemahan manusia. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tetapi kami tahu bahwa Yesus Kristus pergi bersama kami. Dalam kepastian itu kami berangkat ke Papua. Tuhan akan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”

Drost berkhotbah di Enschede
Khotbah perpisahan dari pendeta Drost di Enschede, 2 September 1956

 

Hollandia

Orientasi

Di Hollandia (kini Jayapura) pendeta Drost dan keluarganya tinggal di rumah keluarga Koops. Mereka itu juga berasal dari Gereja-Gereja Reformasi di Belanda, dan memiliki toko jam tangan dan kacamata di pelabuhan. Untuk beberapa waktu mereka telah mengadakan kebaktian hari Minggu di rumahnya, bersama dengan satu dua orang lain yang berasal dari gereja reformasi. Tetapi terjadi perselisihan sehingga persekutuan kecil itu sudah hancur.
Pendeta Drost langsung mulai menjajaki kemungkinan-kemungkinan yang ada untuk membuka lapangan pekabaran Injil di pedalaman Papua. Dia mengangkat tugas itu dengan penuh semangat dan antusias. Dia berbicara kepada sejumlah pendeta dari Evangelisch Christelijke Kerk (ECK, kini GKI Tanah Papua). Beberapa dari mereka sudah menyambut pendeta Drost setibanya di bandara. Kebetulan bulan itu diadakan sinode pertama gereja itu. Pendeta Drost bertemu dengan pendeta dr. F.C. Kamma, yang sudah 25 tahun bekerja sebagai misionaris di Papua, dan juga dengan ketua sinode ECK, pendeta Rumainum.

Sifat yang menyenangkan

Dia juga pergi memperkenalkan dirinya kepada beberapa pejabat pemerintah Belanda di Papua, termasuk gubernur Van Baal, dan kepala dinas kantor kependudukan bapak Vic de Bruijn. Bapak De Bruijn saat itu paling terkenal di Papua karena aktivitasnya di Papua selama Perang Dunia Kedua4.
Kepada mereka semua pendeta Drost memperkenalkan dirinya, dan menjelaskan apa maksudnya dia datang ke Papua. Dia seorang santai yang mempunyai sifat yang menyenangkan. Dengan pergaulannya yang ramah tamah ia berhasil menawan hati orang dan mendapatkan banyak simpati, bahkan dari orang yang pada awalnya tidak begitu menyukai kedatangan zending dari Gereja-Gereja Reformasi.

Kamma
Pendeta Kamma dengan orang-orang Papua (a)
Pendeta Rumainum
F.J.S. Rumainum, pendeta dan ketua pertama sinode ECK (b)

 

Sejumlah opsi

Dalam percakapan-percakapan itu, orang mengusulkan berbagai daerah di pedalaman Papua di mana sampai saat itu belum ada gereja atau misi yang bekerja:

  • Daerah di kali Mamberamo. Tetapi katanya jumlah masyarakat di sana memang kurang.
  • Daerah pegunungan, seperti lembah Baliem, atau lembah Swart (kini embah Toli, tempat Tolikara / Karubaga berada). Jumlah masyarakat di tempat-tempat itu cukup besar. Soalnya, misionaris di sana akan sepenuhnya bergantung pada koneksi penerbangan MAF, dan itu melampaui anggaran gereja Enschede pada saat itu.
  • Pantai selatan Papua (‘pantai Kasuarina’), daerah suku Asmat. Di sana pun masyarakat cukup banyak. Tetapi lagi-lagi terlalu mahal, karena belum ada koneksi reguler di sana, jadi orang yang mau menetap di situ harus memiliki kapal yang layak laut. Selain itu, daerah itu belum di bawah pengawasan pemerintah. Residen Papua bagian selatan menasihati pendeta Drost untuk tidak pergi ke sana: “Itu daerah yang belum kami kuasai, sehingga seorang misionaris yang tidak dilindungi oleh polisi akan segera mati…” 

Boven Digoel

Mendahului misi Katolik

Ada satu daerah yang tampaknya patut diselidiki lebih lanjut, yaitu daerah yang terletak di sebelah utara dari Tanah Merah. Terutama pendeta dr. Kamma dan bapak Vic de Bruijn yang mengarahkan perhatian pendeta Drost terhadap daerah itu. Juga ada seorang aspiran kontrolir (pegawai pemerintah Belanda) yang bernama Labree, yang baru dipindahkan dari Tanah Merah ke tempat tugas lain. Dia berasal dari gereja reformasi di Belanda. Melalui surat kepada pendeta Drost dia menganjurkan agar dia akan pilih lapangan misi di wilayah ini. “Dengan demikian misi Katolik akan menghadapi kenyataan bahwa kita telah mendahului mereka – dan itu mungkin menjadi kiasan juga,” demikian tulisnya.

De Bruijn
Dr. J.V. de Bruijn (c)

Boendermaker

Sesudah mempertimbangkan semuanya itu, pendeta Drost memutuskan untuk pergi lihat bagaimana keadaan di Tanah Merah. Ada penerbangan seminggu dari Hollandia ke Tanah Merah, melalui Merauke. Ketika pesawat itu sementara singgah di Merauke, di lapangan terbang pendeta Drost bertemu dengan residen Zuid Nieuw-Guinea (‘bupati’ Papua bagian selatan), bapak Boendermaker. Dia bercerita bahwa misi Katolik sebenarnya belum menembus masuk ke daerah Boven Digoel dan Muyu karena mereka ada kekurangan sumber daya. “Mereka sibuk sekali dengan pembekalan kedua pos pusat mereka di Mindiptana dan Ninati, di wilayah Muyu bawah”, demikian keterangan yang diberikannya.

Tanah Merah
Tanah Merah dilihat dari udara pada tahun 1957

Tanah Merah

Kota kecil

Pada masa itu, Tanah Merah masih agak kecil. Jumlah penduduknya sekitar 300 orang Papua, 50 orang Eropa, 50 orang Indonesia, dan beberapa orang Cina.
Kota kecil itu merupakan ibu kota wilayah pemerintahan Boven Digoel (Onderafdeling Boven Digoel). Pada saat itu, wilayah itu jauh lebih luas daripada kabupatan Boven Digoel sekarang ini, dan membentang dari Asiki di selatan, ke pegunungan di utara, dan dari kali Eilanden di barat, sampai ke perbatasan dengan PNG di timur. Sebagian besar wilayah itu belum dieksplorasi, atau jarang saja dikunjungi oleh patroli polisi.

Fasilitas

Tiap minggu ada hubungan penerbangan ke Hollandia dan Merauke. Di samping itu ada hubungan kapal ke Merauka sebulan sekali. Ada rumah sakit, dan juga ada satu toko, yang dikelola oleh seorang Cina.
Semuanya itu agak penting bagi pendeta Drost. Dia membawa keluarga dengan tiga anak kecil. Dia tidak mau pusing dengan mengatur pemasukan bahan pangan, dan dia juga tidak ingin khawatir tentang keluarganya jika dia jauh dari rumah berpatroli di hutan. Ternyata Tanah Merah adalah tempat yang aman.
Tanah Merah adalah pos pemerintah paling utara di kali Digul. Ada dua kampung kecil yang lebih ke atas, yaitu Tanah Tinggi, dan Mariang. Wilayah yang lebih jauh ke utara hampir belum terjangkau oleh tenaga pemerintah atau misi Katolik.

Misi Katolik

Baru pada tahun 1951 ada seorang pastor yang ditempatkan di Tanah Merah untuk bekerja di daerah sekitarnya. Pada mulanya, ia hanya dapat menjelajahi daerah itu, terutama daerah Mandobo. Karena pembentukan kampung masih dalam tahap awal di wilayah ini, dia belum dapat menempatkan perintis-perintis (semacam penginjil) di sana. Lagi pula dia tidak memiliki kapal untuk naik kali Digul, sehingga dia harus melakukan segala perjalanannya dengan berjalan kaki.
Pendeta Drost ditugaskan untuk mencari suatu daerah di mana belum ada gereja atau lembaga lain yang memberitakan Injil. Tampaknya daerah di sebelah utara dari Tanah Merah memenuhi syarat itu. Menurut apa yang dia dengar dari pegawai-pegawai pemerintah di Tanah Merah, ada cukup banyak orang di sana yang membenarkan untuk membuka lapangan pekabaran Injil di situ.

Tanah Merah
Peta Tanah Merah sekitar 1956 (d)
1960
Tanah Merah 1960. Rumah dinas HPB (“Hoofd Plaatselijk Bestuur” = Kepala Pemerintahan Daerah).
1960
“Toko Digoel” di Tanah Merah, sekitar 1960.

Gereja Maluku

Berkhotbah

Selain gereja Katolik, ada juga gereja Maluku di Tanah Merah. Setidaknya ada sebuah gedung gereja kecil. Tetapi pemeliharaan anggota-anggota gereja itu hampir tidak ada. Gereja Maluku ternyata mengalami kekurangan sumber daya manusia dan keuangan. Selama aspiran kontrolir Labree ditempatkan di Tanah Merah, tiap hari Minggu ia mengadakan ibadah di gereja itu, dan dia sendiri membawa renungan singkat. Setelah dia berangkat, tidak ada orang lain yang dapat memimpin ibadah.
Itu sebabnya, ketika mereka dengar bahwa ada seorang pendeta yang mengunjungi Tanah Merah, mereka datang minta pendeta Drost untuk memimpin ibadah pada hari Minggu itu. Pendeta Drost menerima undangan itu, dan pada hari Minggu itu dia berkhotbah di dalam gedung gereja milik gereja Maluku. Ada sekitar 15 orang yang hadir. Nas khotbah yang dipilihnya adalah 1 Petrus 1:13, “Jadi persiapkanlah pikiranmu, jadilah sadar, dan penuhkan harapanmu pada rahmat yang dibawakan kepadamu oleh wahyu Yesus Kristus.”

 

Tanah Tinggi

Dalam perjalanan kembali ke Hollandia, pendeta Drost bermalam di Merauke. Dia menggunakan kesempatan itu untuk berbicara dengan beberapa tokoh masyarakat dan gereja di sana. Dia juga mengunjungi residen Boendermaker, yang sudah dia bertemu di bandara dalam perjalanan pergi. Pendeta Drost mengajukan gagasan untuk menetap di Tanah Tinggi, karena tempat itu lebih ke utara dan lebih dekat daerah di mana dia mungkin akan bekerja. Tetapi bapak residen Boendermaker mengingatkan bahwa di sana dia akan menghadapi banyak kesulitan: tidak ada lapangan terbang, tidak ada hubungan kapal yang tetap, tidak ada toko, tidak ada rumah sakit. Singkatnya, bukan situasi yang baik untuk suatu keluarga menetap di situ. Menurut dia, jauh lebih baik untuk dulu menetap di Tanah Merah sebagai titik pangkal untuk menjajaki wilayah itu. Baru kemudian dia dapat memilih tempat yang cocok untuk memulai kerjanya.
Tetapi – demikian nasihat Boendermaker – pendeta Drost harus menyadari misi Katolik tidak akan gembira karena kedatangannya di Tanah Merah.

 

Pastor yang cemas

Menerima saja

Pastor Thieman di Tanah Merah tentu tidak senang ketika dia mendengar bahwa zending protestan mungkin akan menetap di tempatnya. Dia curiga bahwa aspiran kontrolir Labree telah bersekongkol dengan pendeta Drost itu. Belum jelas di mana zending mau bekerja, mungkin di wilayah kali Kasuari kah, atau di daerah kali Mappi kah?
Dia segera menulis surat kepada uskup Tillemans di Merauke. Apa yang harus mereka lakukan untuk menghentikan kedatangan zending?!
Tanggapan dari uskup Tillemans sangat mengecewakan pastor Thieman. “Kami tidak bisa berbuat apa-apa,” tulis uskup; “wilayah pelayanan saudara dan pastor Putman (pastor di Muyu) cukup besar. Saya tidak ada pastor-pastor lain, jadi … menerima saja.”5

Mengklaim

Tetapi pastor Thieman tidak punya niat untuk menerima saja! Dia prihatin dan merasa bahwa sikap pasrah bukanlah sikap yang tepat untuk menantikan kedatangan zending. Karena itu ia tidak menanti kedatangan zending dan memutuskan untuk menempatkan perintis di dua tempat di Digul atas.6 Dengan demikian dia mau mengklaim kampung-kampung itu untuk misi, dan sekaligus menutup daerah Mandobo bagi zending.

Tillemans
Uskup Merauke, Mgr. Herman Tillemans, M.S.C. (e)

Usulan

Kembali di Hollandia, pendeta Drost menulis laporan ke majelis gereja di Enschede. Dengan panjang lebar ia menguraikan penemuannya. Dia menjelaskan mengapa opsi lain telah dibatalkan, dan menyarankan memilih wilayah yang belum terjangkau di sebelah utara dari Tanah Merah menjadi lapangan pekabaran Injil.7 “Jika gereja-gereja berani menerima konsekuensi keuangannya, maka saya katakan bahwa dengan berdoa dan melayangkan mata kita kepada Raja kita di surga, kita harus mengambil kesempatan ini tanpa menunda-nunda.” Dia menguraikan bahwa dia juga telah membahas hal ini secara dalam dengan bapak Koops, dan bahwa dia sepenuhnya mendukung proposal ini. “Dalam mempertimbangkan semua hal ini, di mana kita dapat melihat tangan murah Allah atas pekerjaan yang dimulai, setulus-tulusnya saya doakan kamu akan dibimbing Roh dari Yesus Kristus.” 

 

Keputusan

Pada tanggal 18 Desember, majelis gereja Enschede menerima proposal Drost, dan memilih daerah Boven Digoel sebagai lapangan penginjilannya. Melalui surat mereka memberitahukan keputusan ini kepada pendeta Drost. Surat itu diakhiri dengan kata-kata berikut:
“Tuhan memberkati engkau, demikian doa kami, dan mari kita mengatakan dengan kata mazmur:

Kemuliaan perbuatan Tuhan
Nyatakanlah kepada hamba-Mu!
Karuniai kami sekalian
Keelokan-Mu dengan kegemaran.
B’ri tangan kami oleh berkat-Mu
Berhasil perbuatan yang tehuh.

Karena:

Segala puji bagi Allah,
Ajaib mujizat-Nya,
Muliakan Tuhan sedekala,
Hai isi dunia.
Ya, Amin, dunia dipenuhi
Kemuliaan-Nya,
Besarlah Nama-Nya di bumi
Selama-lamanya.

(Mazmur 90:10 dan 72:11)

 

Catatan

  1. Sebelum dia dipanggil oleh gereja Enschede untuk menjadi pendeta misionaris di Papua, pendeta Drost melayani gereja di Buitenpost.
  2. Sampai 1962, Papua dan Papua Barat adalah koloni Belanda, yang disebut Nederlands Nieuw-Guinea. 
  3. Gereja Enschede dalam hal ini bertindak atas nama gereja-gereja yang bekerja sama di klasis Enschede dan klasis Hardenberg. Keputusan untuk mencari lapangan pekabaran Injil di Nieuw-Guinea sudah diambil pada tanggal 15 Maret 1954.
  4. Sejak 1939 Dr. J.V. de Bruijn bekerja sebagai pegawai pemerintah Belanda di Danau-Danau Wissel. Dalam Perang Dunia II dia memimpin suatu kelompok gerilya yang bergerak di belakang garis musuh. “Aksi perlawanan mereka berhasil memperlambat gerak maju tentara Jepang sepanjang pesisir selatan NGB. Tentara Jepang memburu de Bruijn dan kelompoknya. Mereka memberi tekanan pada para gerilyawan itu dengan mengirimkan satu batalyon lengkap untuk menangkap “mata-mata Belanda” itu, tapi dia tidak bisa ditemukan. Ratusan anggota tentara Jepang itu malah mati, di antaranya karena demam malaria dan kesengsaraan. Tentara Jepang juga melakukan kekejaman terhadap orang-orang Papua gunung, tindakan yang menimbulkan kebencian mereka pada “orang-orang kuning” itu dan keberpihakan yang makin kuat pada de Bruijn dan kelompok gerilyanya.” (dikutip dari: https://kotatoeamagelang.wordpress.com/tag/jean-victor-de-bruijn/)
  5. Pastor W. Thieman, MSC, di Tanah Merah 1951-1958.
    Pastor W. Putman, MSC, di Mindiptana 1949-1958.
  6. Belum saya temukan nama kampung-kampung yang dimaksud. Kemungkinan besar itu Tanah Tinggi dan Mariang.
  7. Pilihan untuk daerah Boven Digoel diusulkan dalam kebebasan penuh oleh pendeta Drost. Dalam bulan-bulan sebelumnya ada konsultasi intensif dengan beberapa pejabat  pemerintah Belanda di Papua (di antaranya Gubernur Van Baal dan Residen Boendermaker), tetapi bukan keputusan mereka bahwa zending gereja reformasi harus mulai bekerja di Boven Digoel. Tidak ada yang menekan pendeta Drost untuk memilih daerah itu. Usulannya adalah hasil pertimbangannya sendiri.

Sumber

  • Laporan kerja pdt Drost, no.1 dan 2 (Archief- en Documentatiecentrum van de Gereformeerde kerken in Nederland, Zendingsarchief, archiefnummer 78, doos 56).
  • Korespondensi pribadi dengan J.W. Meijer.
  • Aanvullende Memorie van Overgave van de onderafdelingschef van Boven Digoel, controleur I B.B. F.H.Peters (nota penyerahan), Desember 1958. (Nationaal Archief, Den Haag, Ministerie van Koloniën: Memories van Overgave, toegang 2.10.39, inventaris 417).
  • Surat kabar Gereformeerd Gezinsblad, 4 September 1956 (laporan mengenai ibadah perpisahan pendeta Drost).
  • M.K. Drost, Gereformeerde zendingsarbeid op Irian Jaya, dalam: J. van Bruggen en C. Trimp (red.), Zendingspanorama – Het zendingswerk van de Gereformeerde Kerken in Nederland 1946-1976, Amsterdam (Bolland) 1976, hal. 29-61.
  • G.R. de Graaff, Religie of cultuur? Zending onder de Papua’s van Boven Digul (1956-1967), dalam: G. Harinck en G.R. de Graaf (red.), Van zending naar oecumene – Vijftig jaar gereformeerde zending op Papua, 1956-2006, Barneveld (Vuurbaak) 2010 (AD Chartas-reeks nr. 14).
  • G.R. de Graaff, De wereld wordt omgekeerd – Culturele interactie tussen de vrijgemaakt-gereformeerde zendelingen en zendingswerkers en de Papoea’s van Boven Digoel (1956-1995), tesis akademik di TU Kampen 2012 (AD Chartas-reeks nr 20).
  • J. Boelaars, Met Papoea’s samen op weg, deel 3, Kampen (Kok) 1997.
  • D.J. Jongsma, Een bestuurlijk moeilijk ressort’ – De houding van bestuursambtenaren in het Boven-Digoelgebied op Nederlands-Nieuw-Guinea in conflicten tussen zending van de gereformeerde kerk (vrijgemaakt) en missie van de missionarissen van het Heilig Hart, 1956-1962. (tesis master, tidak diterbitkan).

Foto

  1. Pendeta dr. Kamma dengan orang Papua, dari Arsip Raad voor de Zending der Ned. Herv. Kerk.
  2. F.J.S. Rumainum, pendeta dan ketua pertama sinode ECK; dari Arsip Raad voor de Zending der Ned. Herv. Kerk.
  3. Foto J.V. de Bruijn diambil dari buku: D.L. uyt den Bogaard, Aligamè, Vriend der Papoea’s, Amsterdam (Enum) 1952 (terjemahan dari: Lloyd Rhys, Jungle pimpernel, London 1947).
  4. Pengolahan peta yang dilampirkan pada Aanvullende Memorie van Overgave van de onderafdelingschef van Boven Digoel, controleur I B.B. F.H.Peters (nota penyerahan), Desember 1958 (bnd daftar Sumber di atas)
  5. Foto Mgr. Tillemans diambil dari https://www.geheugenvantilburg.nl

 

 

One thought on “20 – Mencari Lapangan Pekabaran Injil

  1. Elia Omba

    September 14, 2021 at 10:27pm

    bapa saya mohon \ijin saya ada mengambil senang dengan pengetahuan tentang sejarah ini
    bapak saya mohon izin, saya menggunakan artikel ini untuk beberapa penjelasan saya di chanel youtube saya, untuk menjawab pertanyaan dari anak-anak muda dan mahasiswa khususnya dari kalangan \gereja \reformasi tentang pekabaran injil. saya sudah masukan link artikel ini sbagai referensi dari Youtube saya dan juga beberapa foto yang terkait dengan M.K.drost.
    nama saya elia Omba saya adalah Pelayan di GGRI_p

    Permalink  ⋅ Balas