35 Allah muncul di Kouh – 10 Agustus 1958

Pengantar

Di salah satu sinode, GGRI-P telah memilih tanggal 10 Agustus sebagai hari lahir mereka. Pada tanggal itu pada tahun 1958, pendeta Drost untuk pertama kalinya berkhotbah di Kouh. Dengan senang hati dan bersyukur dia menulis artikel tentang hal itu di majalah zending di Belanda dengan judul: “Pekabaran Injil sudah dimulai”. Cerita berikut ini mengenai hari Minggu yang patut menjadi kenang-kenangan itu.

Meijer-A P33-2-L
Pendeta Drost dan bapak guru Meijer duduk santai di belakang rumah Drost di Tanah Merah.

1.

Hari-hari sebelumnya

Kunjungan kedua bapak guru Meijer

Setelah konfrontasi pendeta Drost dengan pastor Thieman pada pertengahan bulan Juni, Drost dan Meijer memutuskan bahwa mereka harus mempercepat rencana mereka. Seminggu kemudian, Meijer berangkat ke Kouh untuk bersama dengan orang kampung membangun suatu rumah untuk zending. Selama tiga minggu dia tinggal di situ, keadaan di kampung itu beberapa kali resah sekali (lihat posting 34). Pada tanggal 12 Juli dia pulang ke Tanah Merah.

Minggu berikutnya keadaan di Mariam dan di Kouh belum sepenuhnya tenang. Tetapi ketika dia berpamitan dengan orang di Kouh, Meijer telah berjanji untuk segera kembali, jadi dia pergi ke sana lagi pada tanggal 23 Juli. Berbeda dengan terakhir kali, dalam minggu-minggu itu tidak ada gangguan. Bersama orang kampung, dia bisa meneruskan pembangunan rumah zending. Hubungan dengan masyarakat ternyata sangat baik. Setelah dua minggu, rumah itu memang belum sepenuhnya siap, tetapi itu terutama karena kekurangan bahan, seperti gaba-gaba untuk dinding.

IMG 6709-L-2
Pembangunan rumah zending di Kouh, 1958.

Rabu, 6 Agustus

Kapal Ichthus datang

Hari hampir berakhir, matahari sudah turun rendah di atas hutan, masih sedikit lagi baru akan menjadi gelap.
Salah satu anak mendengar bunyi di kejauhan terlebih dahulu: motor! Beberapa saat kemudian, yang lain juga mendengarnya: kapal Ichthus datang. Setelah beberapa saat bunyi mereda lagi, karena Digul sangat berkelok-kelok. Tapi kemudian bunyi itu kembali dan terdengar jauh lebih dekat. Bapak-bapak jalan ke pinggir kali; anak-anak berlari ke depan dan menari dan melompat. Mereka masih harus bersabar karena kapal zending tidak begitu cepat. Tapi akhirnya kapal itu muncul di kejauhan di tanjung terakhir.

Sudah benar-benar gelap ketika Ichthus akhirnya berlabuh di pinggir kali dan para penumpang keluar dari kapal dan naik ke tepi kali yang tinggi. Yang pertama muncul adalah pendeta Drost. Semua orang berkerumun di sekelilingnya. Mereka tersenyum padanya karena mereka mengenalnya dengan baik. “Apakah semuanya baik-baik kah?”, tanya Drost. Ya, semuanya baik-baik saja, dan mereka senang melihatnya lagi dan menyambutnya dengan antusias. Tiap kali terdengar bunyi salam buku jari.

Kouh Digul
Kouh, Kali Digul. Di sebelah kiri pasanggrahan kelihatan. Jauh ke depan masih berdiri pohon waringin yang di kemudian hari ditebang.

Pendeta Klamer

Sementara itu, ada seorang kulit putih lainnya telah muncul. Orang-orang kampung memandangnya dengan ragu-ragu dan bertanya kepada Drost: Tuan, siapakah bapak itu yang datang bersama dengan engkau? Kami belum pernah melihat dia sebelumnya…
Itu seorang pendeta baru, jawab Drost; namanya Klamer. Dia baru saja tiba dari di Tanah Merah seminggu yang lalu. Dia datang lihat kamu punya kampung.
Bisa!, mereka bilang, itu baik-baik saja, dan dengan antusias mereka menyapa Klamer yang masih terlihat agak gelisah dan sekarang juga harus mencoba berikan salam buku jari.

Sementara bapak guru Meijer juga sudah datang menyambut teman-temannya. Untuk dia juga ini pertama kalinya dia bertemu Klamer.
Beberapa pemuda turun untuk angkat barang dari kapal untuk membawanya ke pasanggrahan. Drost, Klamer dan Meijer ikut ke sana. Semua orang bergabung dan beberapa saat kemudian mereka semua berdiri di pasanggrahan dan menyaksikan orang kulit putih itu menggantung kelambu mereka dengan cahaya lampu minyak tanah. Sementara itu bapak guru Meijer duduk membaca surat-surat yang mereka bawa dari Tanah Merah. Seseorang datang dari kampung membawa bola sagu dan taruhnya di dapur di belakang rumah.

Untuk waktu yang lama orang kampung duduk menonton ketiga tuan itu, dan mereka saling memberi komentar tentang semua yang mereka lihat. Akhirnya bapak guru Meijer bangkit berdiri. Ayo bapak-bapak, anak-anak, waktu untuk pergi tidur. Mereka itu lelah dari perjalanan, dan besok ada hari lain lagi. Semua orang bangun, mereka mengambil beberapa potongan kayu yang membara dari api dan dalam cahaya redup kayu-kayu itu mereka pulang ke rumah mereka masing-masing yang di sisi kali.
Keheningan malam segera menyelimuti kampung kecil di pinggir kali Digul itu.

Perundingan

Soal bahasa

Keesokan hari pagi-pagi orang kampung sudah datang lagi ke pasanggrahan tempat tamu-tamu itu menginap. Mereka tidak mau melewatkan apa pun dari para tamu kulit putih itu. Sudah sebelum jam 6 mereka berdiri menonton ketika tiga bapak itu keluar dari kelambu mereka. Mereka ikut ketika mereka pergi mandi di kali. Mereka berjalan bersama dengan mereka ketika mereka pergi lihat kampung. Mereka ikut ketika mereka pergi periksa pembangunan rumah zending. Sepanjang hari mereka hadir, dan bicarakan tiap-tiap hal yang dilakukan oleh orang-orang kulit putih itu. Apa yang mereka bicara itu tetap tinggal tersembunyi dari Drost, Meijer dan Klamer, karena mereka tidak bisa mengerti apa-apa dari bahasa orang kampung. Sebaliknya, orang kampung juga tidak dapat mengerti apa-apa yang dibicarakan oleh ketiga orang itu waktu mereka itu sibuk berbicara satu satu sama lain di pasanggrahan, karena mereka tidak tahu sepatah kata pun dalam bahasa Belanda.

Apperloo 00-043-L
1958. Kapal Ichthus berlabu di Kouh, Drost sedang mandi di kali Digul.

Yang dibicarakan ketiganya itu adalah rencana pendeta Drost untuk mulai mengadakan semacam ‘kebaktian’ untuk orang kampung Kouh pada hari Minggu itu. Tentu itu pokoknya mereka datang, yaitu untuk memberitakan Injil kepada orang Papua. Karena bagaimanakah orang Papua dapat percaya kepada Tuhan kalau mereka belum mendengar tentang dia? Juga, bagaimanakah mereka dapat mendengar tentang Tuhan, kalau tidak ada yang memberitakan? (Roma 10:14) Tetapi bagaimanakah mereka dapat mendengar kalau mereka tidak bisa memahaminya? Dan bagaimanakah Drost dapat memberitakan Injil kalau dia tidak tahu bahasa orang Papua di Kouh! Memang benar bahwa Drost dan Meijer sudah kenal beberapa kata dan ungkapan dari bahasa yang digunakan di Kouh. Tetapi itu sama sekali tidak cukup untuk mereka dapat memberitakan Injil dalam bahasa daerah. Selain itu, ada banyak kata dan konsep dalam Alkitab yang tampaknya tidak ada dalam bahasa orang Papua.

Soal adat dan budaya

Dan ini bukan hanya masalah bahasa. Mereka juga hampir belum tahu apa-apa tentang pandangan-pandangan dan cara berpikir mereka. Bagaimanakah mereka dapat memberitakan kabar gembira sedemikian rupa sehingga isinya sungguh-sungguh akan dimengerti sebagai kabar yang berarti. Bagaimana mereka dapat menghindari bahwa ‘khotbah’itu tidak melampaui pengertian mereka.

Untungnya, ada beberapa anak muda di kampung yang sudah tahu sedikit bahasa Melayu. Jadi mereka bisa dipakai sebagai juru bahasa. Tentu itu bukan solusi yang ideal, tetapi mereka harus puas dengan itu karena tidak ada jalan lain. Menurut mereka adalah penting untuk tidak lagi menunda pekabaran Injil yang merupakan inti tugas mereka. Oleh sebab itu mereka memutuskan untuk tetap melakukannya. Tiap hari Minggu satu kali, dan kemudian pada hari-hari berikutnya membahas cerita dari hari Minggu itu di rumah-rumah orang kampung.

Kouh, Pebruari 1959. Kiri: Yelangenop, Kanan: Wangumop, di belakang: Deuwejob.
Kouh, Pebruari 1959. Yelangenop (kiri) dan Wangumop (kanan) sudah tangkap ikan besar. Mereka sering tolong sebagai juru bahasa. Di belakang: Deuwejob.

Undangan

Sabtu pagi kapal Ichthus berangkat lagi. Orang-orang kampung berdiri di pinggir kali menyaksikan bapak guru Meijer dan pendeta Klamer berangkat pulang ke Tanah Merah.
Ketika bunyi motor telah mereda, Drost datang ke kampung. Dia sering datang jalan-jalan di kampung, tapi kali ini berbeda. Dia masuk rumah pertama. Besok adalah hari Minggu, dia bilang. Ya, mereka sudah tahu bahwa hari Minggu itu berbeda dari dengan hari-hari lain. Pembangunan rumah zending untuk sementara berhenti pada hari itu. Bapak guru Meijer sudah menjelaskan kepada mereka bahwa hari Minggu adalah hari istimewa dan bahwa pada hari itu mereka tidak boleh bekerja. Benar, kata Drost, karena hari Minggu adalah hari untuk sembayang. Oleh sebab itu, besok pagi kamu semua harus datang ke rumah zending. Kalau besok pagi kamu datang berkumpul di rumah zending, saya akan menceritakan sebuah kisah mengenai Allah, karena itulah sebenarnya maksud dan tujuan bahwa kami datang ke sini!

Sesudah itu dia pergi ke rumah berikut, dan di sana dia membawa pesan yang sama. Demikian dia mengunjungi tiap-tiap rumah kampung, dan mengundang semua orang untuk besok datang dengar cerita yang dia mau memberitakan kepada mereka.

Kouh 022-L
Kouh 1959. Di belakang kanan pasanggrahan kelihatan.

Undangan itu menjadi pokok pembicaraan orang kampung pada hari itu. Cerita macam apa yang akan diceritakan orang kulit putih itu kepada mereka? Mengapa itu begitu penting? Dan bagaimana mungkin bahwa setiap orang boleh datang mendengar, bukan orang laki-laki saja tetapi juga para pemuda dan anak-anak, dan bahkan perempuan-perempuan! Cerita-cerita penting yang diturunkan oleh nenek moyang mereka itu hanya untuk orang laki-laki dewasa, yang lain tidak boleh ikut dengar, terutama kaum perempuan tidak. Karena cerita-cerita itu rahasia! Rupanya itu berbeda dengan cerita yang besok akan dikisahkan oleh orang kulit putih itu.

2.

Hari Minggu

Pertemuan

Tidak seperti hari-hari lainnya, pagi hari kampung tetap sepi. Tidak ada yang keluar dengan busur dan anak panah untuk mencari makanan di hutan. Tidak ada yang pergi ke kali untuk masuk ke dalam perahu untuk pergi pancing atau periksa kebun. Asap api melingkar-lingkar naik keluar dari atap rumah-rumah. Semua orang menunggu dengan tegang apa yang akan terjadi pada hari itu.
Pendeta Drost sendiri juga demikian. Akankah orang-orang kampung muncul untuk mendengar apa yang dia akan katakan? Ataukah mereka tidak peduli dan tinggal saja di rumah-rumah mereka?

Sekitar jam sembilan Drost keluar dari pasanggrahan. Cemas hatinya. Dia jalan menuju ke kampung. Ketika dia sampai di sana dia mulai mengumumkan dengan suara besar supaya semua orang di ke-empatbelas rumah kampung bisa mendengar: Bapak-bapak, mama-mama, anak-anak: marilah! Datanglah ke rumah zending! Saya akan menceritakan suatu ceritera untuk kamu semua! Ayo, marilah!
Kemudian dia berjalan kembali dan pergi ke rumah misi. Ada doa di dalam hatinya.

Kouh Desember 1958; pdt Drost mengadakan ibadah.
Kouh Desember 1958; pdt Drost mengadakan ibadah. Bapak-baka dan anak-anak laki-laki duduk di lantai.

Dia tidak perlu tunggu lama. Di mana-mana ada orang yang turun dari rumah mereka dan mulai jalan menuju ke rumah zending. Ada bapak-bapak, ada mama-mama kadang-kadang dengan bayi di dalam noken, ada pemuda-pemudi, ada anak-anak. Mama-mama yang sudah memiliki baju mengenakannya di atas cawat mereka. Kepala desa pakai pakaian dinasnya untuk kesempatan istimewa ini. Di pendopo rumah zending mereka semua cari tempat duduk, bapak-bapak dan anak-anak laki-laki di satu tempat, mama-mama dan anak-anak perempuan di sebelah lain. Akhirnya seluruh masyarakat kampung muncul. Jumlah mereka sekitar 80 orang.

Kemudian saatnya telah tiba. Pendeta Drost bangkit berdiri di ujung pendopo, antara bagian laki-laki dan bagian perempuan. Mata semua orang tertuju kepadanya karena mereka ingin tahu apa yang dia akan ceritera. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dari kampung kedengaran seekor anjing yang melolong. Di bawah pendopo ada seekor babi yang sedang cari makanan.

Meijer-Kouh 024-L
Kouh Desember 1958; pdt Drost mengadakan ibadah. Empat anak perempuan di sebelah kanan, dari kiri ke kanan: Fuomé, Angke, Ance, Ingrid.

Ceritanya

Sementara beberapa mama sedang menyusui bayinya untuk membuat mereka diam, pendeta Drost berdeham. Dia akan membawa suatu cerita dari Alkitab, tetapi orang-orang yang duduk di sekitarnya belum tahu Alkitab itu apa. Dia mulai bicara: Bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak… Baru dia mulai dengan cerita yang pertama dari Alkitab itu, tentang penciptaan langit dan bumi. Ketika dia mulai, untuk sesaat dia beremosi:

“Mereka duduk untuk mendengar! Kamu pasti akan mengerti bahwa itu menyentuh perasaan saya: inilah yang kami menantikan. Dan lihatlah – sekarang telah dimulai. Suatu keajaiban di mata kita. Dan ada doa di dalam hati saya, agar orang-orang ini yang hidup dalam ketakutan dan kecemasan dapat mengenal sukacita karena kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus.”

Kouh Desember 1958; pdt Drost mengadakan ibadah
Kouh Desember 1958; pdt Drost sedang ‘berkhotbah’ di pendopo rumah zending.

Pertemuan pagi itu bukan kebaktian. Tidak ada liturgi, hanya cerita Alkitab itu yang dibawa dalam bahasa Melayu yang sangat sederhana dengan beberapa kata dalam bahasa orang Kouh. Setiap saat lagi pendeta Drost harus berhenti sementara untuk memberi kesempatan kepada juru bahasa untuk mengulang kata-katanya dalam bahasa suku, karena sebagian besar orang yang pagi itu hadir di rumah zending belum tahu satu kata pun dalam bahasa Melayu.
Semua orang, khususnya mama-mama mendengarkan dengan penuh perhatian. Bahwa mereka boleh duduk ikut dengar cerita ini adalah pengalaman yang belum pernah terjadi sebelumnya!

Pertemuan itu tidak berlangsung lama. Setelah Drost berdoa, semua orang bisa pulang ke rumah. Tetapi sepanjang hari Minggu itu mereka berbicara tentang apa yang mereka dengar pagi itu. Hampir tidak ada orang yang keluar hari itu untuk mencari makan atau pergi pancing. Banyak yang harus mereka pikirkan! Ini adalah pertama kalinya mereka mengalami hal seperti ini.
Tapi apa yang sebenarnya mereka alami?

Kouh Desember 1958; pdt Drost mengadakan ibadah. Habis kebaktian orang keluar.
Kouh Desember 1958; pdt Drost mengadakan ibadah. Habis sembayang orang turun dari pendopo dan pulang ke rumah masing-masing.

Apa ini?

Pekabaran Injil telah dimulai! Itulah yang terjadi dilihat dari sudut pandang Drost dan gereja-gereja yang telah mengutusnya ke Papua. Tetapi orang-orang Papua di Kouh sama sekali belum sadar akan apa yang dimulai. Mereka sudah mendengar sebuah cerita. Sebuah cerita mengenai asal usul langit dan bumi. Itulah mereka sudah mengerti. Meskipun, tentu saja, kita tidak tahu apakah juru bahasa yang pagi itu menerjemahkan cerita itu ke dalam bahasa daerah sungguh-sungguh mengulang cerita Drost itu dengan tepat dan secara detail. Apakah dia sendiri sudah memahaminya? Bagi dia sendiri pun semuanya itu juga merupakan hal-hal yang belum pernah dia dengar.

Orang-orang kampung telah menerima cerita-cerita dari nenek moyang mereka. Ada juga cerita mengenai asal usul segalanya. Tapi sekarang Drost datang dengan cerita mengenai pokok yang sama tetapi yang sama sekali berbeda. Bagaimana mereka harus mengartikan cerita itu? Siapa Allah itu yang terus Drost bicarakan? Apakah itu mungkin nama lain untuk salah satu dewa atau roh yang mereka sudah kenal? Mungkin itu artinya Refafu kah? Cerita turun-temurun mengatakan bahwa setelah Refafu menciptakan dunia, ia pergi tidur di bawah akar pohon waringin di Aremburu. Jikalau dia diganggu, dunia akan rusak dan berakhir…
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu menjadi buah pikiran di Kouh sepanjang hari Minggu itu. Mereka tidak bisa minta penjelasan dari Drost karena dia tidak tahu cerita dari nenek moyang mereka.

Bahkan pada hari-hari berikutnya, ketika mereka bekerja lagi di pembangunan rumah zending, mereka masih terus bertukar pikiran mengenai hari Minggu itu. Tidak mengherankan! Drost sudah mulai menceritakan sejarah asal usul langit dan bumi sebagai awal sejarah keselamatan yang berpuncak pada penebusan melalui karya penebusan Kristus. Dengan itu dia menyentuh keyakinan dasar mereka mengenai asal usul kesengsaraan dan mengenai pandangan mereka tentang penebusan dari kesengsaraan itu. ‘Khotbah’ Drost mengguncangkan pandangan dunia mereka.

Meijer-Kouh 026-L
Kouh Desember 1958; pdt Drost mengadakan ibadah. Habis ibahad orang turun dan kembali ke rumah masing-masing. Yang berdiri di depan, dari kiri ke kanan: Angke, Willy, Ingrid, Ance, Henk, Fuomé.

3.

DAMPAK

Menimbulkan rasa ingin tahu

Sampai saat itu, mereka memandang Drost dan Meijer sebagai orang kulit putih yang memberikan status kepada kampung mereka. Mereka sudah lihat bahwa Misi Katolik membawa kemajuan di kampung Mariam. Mereka mengharapkan hal yang sama dari Zending. Tentu saja, mereka sama sekali belum memahami apa perbedaan antara kedua organisasi itu. Bukan haus akan Firman sehingga mereka senang dengan kehadiran Zending. Yang penting bagi mereka ialah bahwa harus ada kemajuan.
Cerita-cerita hari Minggu itu tampaknya tidak menyumbang kepada kemajuan itu. Namun demikian, pada hari-hari Minggu berikutnya minat mereka untuk datang dengar tetap tidak berkurang. Mereka terus mendengarkan kelanjutan cerita hari Minggu pertama itu dengan perhatian yang sama.

Apa sebabnya? Tidak ada yang memaksa mereka, Bestuur tidak, dan Zending juga tidak. Namun mereka tetap datang. Apakah mereka datang karena mereka terpesona dengan kulit putih pendeta Drost? Sepertinya tidak, karena di Kouh mereka sudah cukup terbiasa dengan orang kulit putih. Kehadiran mereka pada hari Minggu juga tidak memberi mereka keuntungan materiil. Apakah mereka datang hanya karena rasa ingin tahu? Kesimpulan itu rupanya terlalu dangkal.
Memang benar bahwa sekarang setelah sekian lama tidak mungkin lagi untuk menentukan alasan itu dengan tepat. Tetapi tampaknya sangat mungkin bahwa mereka mengerti bahwa ada bidang umum antara cerita Drost dan cerita dari tradisi nenek moyang mereka. Tentu saja, mereka belum sadar bahwa bidang umum ini sebenarnya merupakan garis pemisah. Mereka belum mempunyai bayangan apa pun mengenai betapa besar jangkauan dan dampak cerita-cerita itu akan dapat terhadap kehidupan mereka.

Ketakutan

Pagi-pagi sekali pada salah satu hari Minggu berikutnya seseorang pergi ke hutan. Sudah sore waktu dia kembali dari cari makan. Ternyata dengan sengaja dia memilih untuk tidak pergi mendengarkan cerita Drost pagi itu. Tapi malam hari orang-orang lain datang masuk rumahnya dan memberitahu kepadanya apa isinya cerita pagi itu. Pokoknya tentang penciptaan manusia pertama, Adam, dan tentang istrinya, Hawa. Cerita itu mengenai betapa baiknya pada awalnya, tetapi bahwa Iblis sudah merusakkan segalanya. Drost juga sudah bercerita mengenai kedatangan Tuhan Yesus yang telah pukul kalah Iblis sehingga mereka tidak perlu takut lagi.
Mengenai semua hal itu mereka sudah ada cerita-cerita turun-temurun. Tetapi pesan Drost bahwa mereka tidak perlu takut lagi karena Yesus sudah mengalahkan Iblis, itu mereka belum pernah dengar. Pada saat itu Drost belum sadar tentang hal itu, tetapi dengan cerita itu dia sudah kena inti keberadaan mereka.

Mereka ingin tahu lebih banyak tentang hal itu. Mereka pergi ke Drost dan mulai bercerita tentang perasaan orang Kombai mengenai orang kulit putih. Orang Kombai itu sama sekali tidak senang bahwa Bestuur dan pendeta Drost sudah mengunjungi pesta ulat sagu orang Kombai, ketika pada awal tahun itu mereka membuat patroli besar melintasi daerah mereka. Mereka takut bahwa kalau orang kulit putih itu akan datang sekali lagi, dewa mereka yang bernama Refafu, yang tinggal di salah satu tempat di dekat pegunungan, akan mengguncang bumi sehingga dunia akan rusak …

MKD-d-013-L
Tamu-tamu pesta ulat sagu di depan bivak pesta yang dikunjungi pdt Drost pada patroli awal tahun 1958.

Persamaan antarmanusia

Ada satu hal lain yang pasti mereka perhatikan dalam khotbah Drost, yaitu bahwa tiap kali dia pakai kata ‘kita’. Bukan ‘kami’ dalam arti: kami orang kulit putih, tetapi ‘kita’, yaitu kamu orang Papua bersama dengan saya orang kulit putih. Kata ‘kita’ itu juga muncul dalam laporan pendeta Drost; dia tulis:

“Dan ada doa di dalam hatiku, agar orang-orang ini yang hidup dalam ketakutan dan kecemasan itu, bersama dengan kita akan dapat kenal sukacita kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus.”

Kata itu pun tentu menimbulkan pertanyaan dalam hati orang Kouh pada saat itu. Karena orang kulit putih itu bukan kombai – ‘orang’, tetapi makhluk jenis yang berbeda: kwai.

Dari cara pendeta Drost dan bapak guru Meijer bergaul dengan mereka sudah menjadi jelas bagi mereka bahwa bagaimanapun mereka itu mau berdiri di samping mereka. Dan sekarang dari cara Drost menceritakan cerita-ceritanya mengenai Allah, sikap itu menjadi nyata juga. Dengan menggunakan kata ‘kita’ itu ia menempatkan dirinya di samping mereka. Ada persamaan mendasar antara orang kulit putih dan orang Papua sebagai manusia yang berdosa melawan Pencipta langit dan bumi. Kata ‘kita’ dalam cerita-cerita itu tunjuk keyakinan mendalam pendeta Drost bahwa baik orang Papua maupun dia sendiri dan orang kulit putih lain sangat membutuhkan kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus. Tetapi semuanya itu masih jauh melampaui pengertian orang di Kouh pada saat itu.

Allah muncul di Kouh

Pendeta Drost sangat senang dan bersyukur:

“Di salah satu kampung yang mulai terbentuk di lapangan kerja kami, pemberitaan Injil Yesus Kristus yang menebus manusia telah dimulai.”

Tapi, dia melanjutkan dalam laporannya di majalah zending itu:

“Sekarang penting untuk bertekun. Bertekun dalam pekabaran Injil dan dalam doa. Agar Gereja Kristus juga dapat ditanam di daerah-daerah ini di mana orang masih menyembah berhala. Dan agar pada suatu hari orang yang sekarang masih biasa makan daging manusia, nanti oleh iman dapat duduk bersama dengan kami di meja Tuhan, untuk kita bersama-sama memberitakan kematian yang menyelamatkan dari Tuhan kita Yesus Kristus.”

Pendeta Drost sadar bahwa dia sendiri tidak lebih dari alat di dalam tangan Tuhan. Allahlah yang telah muncul di Kouh dan yang pada hari Minggu tanggal 10 Agustus 1958 telah mulai memanggil orang-orang kepada diri-Nya. Kesadaran itu membuat pendeta Drost mengakhiri dengan doa (dan perhatikan kata-kata yang dia tulis dengan huruf besar!):

Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya;
Janganlah Kautinggalkan perbuatan TANGAN-MU!
(Mazmur 138:8)

Mari kita mengaminkan doa itu hari ini!

Perjamuan-01-L-2b
Perajaan Perjamuan Kudus di Wanggemalo, daerah Kombai, pada bulan Maret 1990. Yang duduk di meja, dari kiri ke kanan: dua ibu dari Wanggemalo, Anja Slagter (yang kemudian nikah dengan Yopi Hursepuny), Ely Weremba (istri dari Tomas Weremba, dua-dua berasal dari Kouh), Moses Amuru dari Ugo, Willem Khuanemba dari Uni.

–//–

Bahan sumber:

  • Drost, M.K., De prediking begonnen. Dalam: Ons Zendingswerk, tahun ke-3 no. 5, Nopember 1958, hal. 1-4.
  • Drost, M.K., Gereformeerde zendingsarbeid op Irian Jaya. Dalam: Dr. J. van Bruggen en Dr. C. Trimp: Zendingspanorama: Het zendingswerk van de Gereformeerde Kerken in Nederland 1946-1976, Amsterdam 1976 (hal. 29-42)
  • Enk, G.J. van, dan Lourens de Vries, The Korowai of Irian Jaya : Their Language in Its Cultural Context. New York / Oxford 1997.
  • Graaf, G.R. de, De wereld wordt omgekeerd: Culturele interactie tussen de vrijgemaakt-gereformeerde zendelingen en zendingswerkers en de Papoea’s van Boven Digoel (1956-1995). Kampen 2012 (dis.)
  • Haak, C.J., De ontstaansgeschiedenis van de Gereja-gereja Reformasi di Indonesia, Papua in missiologisch perspectief (1958-1988). Dalam: George Harinck danGerrit R. de Graaf (ed.), Van zending naar oecumene: Vijftig jaar gereformeerde zending op Papua, 1956-2006. Barneveld 2010 (seri: Ad Charta no. 14).
  • Klamer, J., In het land van de Papoea’s. Serangkaian artikel dalam Gereformeerd Gezinsblad; No. 4 (11 Oktober 1958), Dengan Ichthus ke Kouh. Np. 5 (15 Oktober 1958), Beberapa hari di kampung Kouh.
  • Klamer, J., Uit de rapporten van ds J Klamer. Dalam: Ons Zendingswerk, tahun ke-3 no. 5, Nopember 1958, hal. 7-8.
  • Meijer, J.W., laporan kerja ttgl 11 Agustus 1958.
  • Vries, L.J. de, De grondtaal van Nieuw Guinea. Amsterdam 2007.