13 – Naik kali Manggono (1958)

pendeta Drost bertemu seorang Kombai

Pendeta Drost bertemu dengan seorang Kombai, di Borokambia di tepi kali Manggono, 

Tidak ada sagu…

Ketika patroli besar pemerintah Belanda pada bulan Pebruari 1958 berangkat dari Kouh, ada kelompok kecil polisi yang jalan empat hari sebelumnya. Pemimpinnya adalah veldwachter II (agen polisi II) yang bernama Akojama. Mereka harus coba kumpul sagu di Borokambia untuk patroli besar yang mengikuti mereka, dan yang terdiri dari 50 orang lebih. Mereka membutuhkan sagu banyak untuk minggu-minggu berikut, lebih banyak daripada yang mereka sendiri bisa bawa! Tetapi karena ternyata kampung Borokambia hampir kosong, rencana itu tidak berhasil. Jadi ketika patroli besar datang, belum ada cukup sagu untuk mereka langsung bisa meneruskan perjalanan mereka.

Sudah sore sekali ketika ada sebuah kapal kecil yang tiba-tiba datang naik kali Manggono. Kapal itu adalah Samba-I, milik perusahaan minyak Belanda (1). Kapal itu naik kali Manggono untuk jemput kelompok pengukur tanah yang sedang memotong jalan rintis dan yang mau tembus di kali Manggono beberapa tanjung ke atas.

Hari berikut, sementara para peserta patroli tinggal di Borokambia, pemimpin mereka, bpk F.H. Peters (yang saat itu adalah kepala pemerintah Belanda di wilayah Boven-Digoel), pakai kesempatan itu untuk ikut Samba-I naik ke atas. Pada perjalanan itu, dia menemukan kampung kecil yang baru dibuka; namanya Tumariop. Ada 6 rumah kecil, dan orang sana ternyata  sangat cemas. Sore mereka kembali.

 

Belajar bahasa

Sementara Peters dengan Samba-I ke atas, tengah hari di Borokambia beberapa orang kembali dari hutan. Mereka langsung mulai pangkur sagu. Dokter Bijkerk sibuk memeriksa orang kampung; dari 31 orang ternyata ada 13 yang sakit, dan dari 13 orang itu ada 5 dengan luka-luka frambusia (2). Pendeta Drost berusaha membuat hubungan dengan orang kampung dan memperkenalkan diri kepada mereka. Dia coba belajar beberapa kata dari bahasa Kombai.

seorang Kombai
Orang Kombai di Borokambia di kali Manggono, sekitar tanggal 15 Pebruari 1958.
Pendeta Drost belajar berhitung dengan cara Kombai
Pdt. Drost belajar berhitung dengan cara Kombai.
kali Manggono di Borokambia
Orang kampung Borokambia, di pinggir kali Manggono.
De Samba-I van de NNGPM
Kapal ‘Samba-I’ di Borokambia di kali Manggono.

Terus ke atas

Karena sekarang sudah ada sagu untuk di tengah perjalanan, besok pagi mereka siap berangkat. Kapal Samba-I (dan salah satu kapal lain yang kebetulan mampir ke Borokambia) membawa semua peserta patroli sejauh mungkin ke atas. Dalam perjalanan mereka singgah di Tumariop. Dokter Bijkerk mengadakan polik di sana. Ia memeriksa 16 bapak, 3 di antaranya ada luka-luka frambusia.

Ketika mereka melanjutkan perjalanan, 5 orang Tumariop ikut. Perjalanan ke atas dengan kapal-kapal itu ternyata makin sulit. Kadang-kadang mereka harus memotong jalan melalui kayu apung. Waktu mereka tidak bisa melangkah lebih jauh ke atas lagi, mereka membuat bivak di tepi barat kali Manggono. Memang tempat itu sama sekali tidak disuka oleh orang-orang dari Tumariop. “Di sebelah sini ada orang-orang jahat yang berbahaya!”, kata mereka.

Sebelum bivak sudah siap, ada seorang bapak dengan dua anak laki-laki keluar dari hutan. Pada awalnya mereka agak takut, tetapi ketika mereka diberikan beberapa item kontak, mereka menjadi tenang. Satu dari dua anak itu ada luka frambusia dan diberikan suntikan PAM. Ketika sudah menjadi gelap, mereka menghilang ke hutan lagi.

Malam itu para penjaga bivak diperkuat. Kira-kira di sini beberapa patroli sebelumnya telah terdampar karena sikap bermusuhan penduduk (3).

Tetapi tidak ada apa-apa yang terjadi malam itu. Pagi-pagi para tamu dari hari sebelumnya kembali dengan dua bapak lain yang ada frambusia. Mereka menerima suntikan, tetapi mereka tidak mau ikut untuk menjadi pemandu.

Sekitar jam 8 patroli masuk hutan lagi, sekarang dengan berjalan kaki. Mereka jalan ke utara, menuju sungai Becking (Ndeiram Kabur / Neilo), karena mereka mau coba mencapai sungai itu.

orang Kombai die kali Manggono atas
Lima orang Kombai, yang datang bertemu dengan patroli pemerintah Belanda awal tahun 1958.

Catatan:

  1. Pada tahun 1957-1959, NNGPM (Nederlandsch Nieuw-Guinea Petroleum Maatschappij) membuat survei minyak di wilayah itu.
  2. Frambusia adalah suatu infeksi bakteri jangka panjang (kronis) yang paling sering mengenai kulit, tulang, dan sendi. Frambusia sering didiagnosis dengan munculnya luka. Untunglah, dengan suntikan penisilin (PAM) penyakit ini cepat cepat sembuh.
  3. Yaitu patroli De Haas (1936) dan patroli Van Lint (1957).

Sumber:

  • H. Bijkerk, Verslag Toernee naar het Manggono- en Arupgebied van 10 februari t/m 6 maart 1958, No.: 338/Tm5, Tanah Merah 15 mei 1958. Rapport aan de Directeur van Gezondheidszorg te Hollandia Binnen. (Milik pribadi, salinan diterima dari pdt Drost)
  • Laporan pdt Drost dalam majalah zending Ons Zendingswerk, 1958 no. 3 (2 April), hal. 2-8.
This entry was posted in .